Kebetulan memang tidak pernah ada. Itu yang saya
percaya selama ini.
Menempuh pendidikan di sekolah kejuruan bukan impianku,
tapi juga bukan paksaan dalam kehidupanku. Lebih tepatnya, aku bukan pribadi yang ambisius.
Bukan berarti aku tak pernah serius akan cita-citaku. Yang jelas, kubawa
kehidupanku mengalir meskipun seringkali tak terjangkit apa yang aku
rencanakan. Tapi aku tahu penciptaku lebih memiliki skenario matang tentang
cerita kehidupanku sedatail-detailnya.
Dan benar. Siapa kita dipertemukan, itu juga ada dalam
alur skenerio Sutradara Sempurna.
Siapa sangka? Enam tahun setelah kelulusan dari putih
abu ku, aku dibawa kembali ke sekolah yang sebelumnya tidak kuinginkan. Kali ini,
aku bukan menyandang siswa lagi, tentu karena aku pun sudah melewatinya dengan
baik dan telah menempuh pendidikan di universitas.
Aku datang bukan untuk memperbaiki kesalahanku selama aku
menjadi siswi di situ, dari di suruh berdiri di kelas karena asyik ngobrol
dengan teman sebangku, bolos pramuka dan pelajaran, sampai sering terlambat ke
sekolah dan akhirnya tidak diperbolehkan untuk masuk alias bolos sekolah.
Peranku kali ini adalah guru atau pengajar. Seringkali aku
ingin tertawa, ketika aku masuk di kelas-kelas dan duduk di meja guru kelas
melihat mereka berseragam sepertiku dulu. Saat upacara pun, aku juga ingin
tertawa. Melihat dulu aku yang harusnya panas-panasan di lapangan, sekarang aku
berdiri di bawah gedung tua yang menjadi kantor guru tidak perlu kepanasan. Apalagi
ketika aku harus menjaga tes. Melihat keresahan mereka ketika mengerjakan soal
tes, berusaha untuk buka contekan dan bertanya kepada temannya. Rasanya seperti
flashback.
Balada
Guru Baru nan Muda
Aku yang seorang guru baru dan terbilang muda, lagi masih
lajang, yang notabene-nya tidak ada basic
guru seringkali agak kaku ketika
harus menegur murid. Kaku mungkin karena aku dulu pernah ada di posisi mereka
dan apa yang mereka lakukan aku juga pernah melakukan sebelumnya. Bisa dikatakan
aku kena karma.
Tapi tidak semuanya. Bisa dibilang senakal-nakalnya aku,
aku termasuk siswi yang pendiam. Heheh... terbukti dari omongan beberapa guru
dan karyawan yang sekarang jadi teman kerjaku. Senakal-nakalnya aku, aku masih
harus menghormati guru dan menghargai sesama murid. Ini benar. Aku tidak
bohong.
Jadilah, rentan umurku dan muridku yang tidak terlalu
jauh membuatku tidak bisa berwibawa seperti guru-guru lama yang sudah ada. Aku jadi
lebih berteman dengan para muridku. Perpaduan antara guru dan teman kalau di
sekolah. Jika aku harus bersikap macam guru-guru yang sudah lama, terang saja
aku tidak bisa.
Bahkan selama aku menjadi guru di sekolahku dulu,
beberapa murid laki-laki terkadang bercanda layaknya mereka menggoda teman
wanita mereka. Untunglah mereka masih dalam batasan. Kalau tidak mungkin sudah
kulempar pakai sepatu.
Ada diantara mereka, yang aku lihat sedikit serius
tentang godaan mereka kepadaku. Terbukti tanpa sengaja beberapa kali kupergoki
muridku itu sedang mencoba curi pandang, juga dari beberapa pertanyaan cukup
serius di luar pelajaran yang pernah ia lontarkan kepadaku. Tapi tidak pernah
aku tanggapi dengan serius pertanyaan-pertanyaannya bahkan sering kali
kuabaikan.
Terkadang beberapa siswi tiba-tiba merangkulku dari
belakang. Tapi aku tidak menolak, ketika mereka ingin berteman denganku. Yang terpenting
bagaimana aku mesti bersikap profesional ketika dalam kelas dan tidak subjektif
saat aku harus memberikan nilai kepada mereka.
Senang berjumpa dengan mereka. Meskipun kadang
membuatku sedikit jengkel karena sikap ngeyel mereka dan hobi game online mereka yang membuatku
harus teriak-teriak sebelum kelas dimulai. Tapi percayalah,
sejengkel-jengkelnya gurumu ini kepada kalian, tidak marah sebegitunya.
Aku hanya ingin mengajarkan kepada mereka tentang
bagaimana harus membagi waktu antara belajar dan bermain. Jujur saja, selama di
kelas aku lebih senang memberikan wejangan-wejangan kepada para muridku. Karena
ku rasa, wejangan tentang nilai kehidupan dan etika itu jauh lebih penting
dibandingkan kurikulum.
Aku selalu mengatakan kepada para murid, bahwa tak
masalah saat mereka mendapatkan nilai jelek ketika tes atau ulangan. Yang terpenting
mereka sudah berusaha dan tanpa mencontek atau bertanya teman itu bukanlah
masalah.
Murid harus berani belajar dari kesalahannya. Selama ini
kulihat, para murid cenderung takut
mendapatkan nilai jelek sehingga mereka mengerjakan tes atau ulangan dengan
cara curang – tidak sprotif. Padahal dari situ mereka akan tahu kesalahan cara
belajar mereka dan bisa memperbaiki untuk ke depannya menjadi jauh lebih baik.
Aku juga tidak pernah meminta mereka harus mendapatkan
nilai yang nyaris sempurna di setiap mata pelajaran yang aku ampu. Karena aku
tahu, setiap pribadi mereka memiliki kecerdasan masing-masing. Aku tidak pernah
bisa memaksakan ikan untuk pandai memanjat, burung untuk berenang, kura-kura
untuk berlari. Seperti itulah aku ibaratkan murid-muridku.
Keputusanku
Setelah 1,5 th aku mengajar kuputuskan untuk aku undur
diri dari sekolah. Bukan karena murid yang menjengkelkan, bukan karena aku tidak
menyukai rekan-rekan kerjaku. Bukan!
Tidak ada masalah sebenarnya ketika aku harus
memberikan meteri di kelas. Aku senang untuk presentasi dan sebelumnya aku juga
sudah mengajar di yayasan anak sampai saat ini. Bukan juga administrasi
pembelajaran yang pernah kulakukan gila-gilaan untuk pertama kali tanpa aku
tahu bagimana administrasi pembelajaran itu, karena akreditasi.
Cukup menekan memang, tapi aku bisa menyelesaikan
dengan cukup baik tanpa harus belajar RPP, silabus dkk-nya dua SKS. Setengah tahun
menunggu waktu akreditasi yang belum jelas kapan akan dilaksankan sembari
membuat administrasi pembelajaran yang rasanya tidak pernah selesai-selesai. What the fuck memang. Membuat hidup
tidak tenang.
Pernah semalam suntuk aku melembur bersama kedua teman
laki-laki yang sama-sama tidak memiliki dasar membuat administrasi pembelajaran.
Sampai sebegitunya.
Alasan yang tepat aku undur, karena aku tahu bahwa
pendidikan yang aku miliki sebenarnya tidak cukup mewadahi untuk menjadi
seorang pengajar. Jika aku serius menekuni profesi ini, tentunya aku harus
melanjutkan pendidikanku lagi.
Alasan lain aku undur karena ada sesuatu yang harus aku
kejar. Semua tentang cita-cita yang mesti diusahakan untuk terwujud agar tak men-daki
jadi mimpi. Aku masih muda dan selagi masih lajang tak ada salahnya aku
mewujudkannya. Cita-cita yang mestinya sudah kulakoni dengan kesungguhan sejak
lama.
Selain itu, masalah waktu. Bekerja di dua tempat yang
berbeda. Menuntutku untuk belajar profesional karena aku memperoleh gaji dari
keduanya. Waktu tersita hanya untuk bekerja dan bekerja setiap hari. Tanpa mengenal
libur atau tanggal merah sekalipun.
Selesai mengajar harus langsung lanjut kerja di yayasan
anak. Pulang dari kantor mesti mengerjakan pekerjaan sekolah seperti, harus
mempersiapkan materi dan sebagainya. Waktuku habis untuk bekerja, istirahat pun
banyak tersita demi menyelesaikan pekerjaan. Tenagaku pun habis oleh pekerjaan.
Pekerjaan yang awalnya ragu-ragu untuk aku ambil dan ragu-ragu
aku teruskan, hingga akhirnya aku bertahan hanya tiga semester. Dari yang
awalnya kami masuk bertiga dan berteman dengan seorang guru muda lain, dan
jadilah kami berteman baik hingga akhirnya bisa dikatakan aku sebatang kara. Kedua
temanku yang terlebih dahulu undur diri untuk menggapai cita-cita mereka dan
ditengah semester ini, teman yang tinggal satu-satunya diajak diskusi harus
pergi karena telah dipanggil oleh Tuhan.
Mengingat hal-hal tersebut, dengan sedikit berat hati kuputuskan
untuk undur dari sekolah. Kuharap murid-murid yang badung itu akan memperoleh
guru yang jauh lebih baik dari gurumu ini.
Terimakasih untuk setiap pengalaman yang ada.