Monday, June 03, 2019

Balada Pengajar Muda


Kebetulan memang tidak pernah ada. Itu yang saya percaya selama ini.

Menempuh pendidikan di sekolah kejuruan bukan impianku, tapi juga bukan paksaan dalam kehidupanku.  Lebih tepatnya, aku bukan pribadi yang ambisius. Bukan berarti aku tak pernah serius akan cita-citaku. Yang jelas, kubawa kehidupanku mengalir meskipun seringkali tak terjangkit apa yang aku rencanakan. Tapi aku tahu penciptaku lebih memiliki skenario matang tentang cerita kehidupanku sedatail-detailnya.

Dan benar. Siapa kita dipertemukan, itu juga ada dalam alur skenerio Sutradara Sempurna.  
Siapa sangka? Enam tahun setelah kelulusan dari putih abu ku, aku dibawa kembali ke sekolah yang sebelumnya tidak kuinginkan. Kali ini, aku bukan menyandang siswa lagi, tentu karena aku pun sudah melewatinya dengan baik dan telah menempuh pendidikan di universitas.
Aku datang bukan untuk memperbaiki kesalahanku selama aku menjadi siswi di situ, dari di suruh berdiri di kelas karena asyik ngobrol dengan teman sebangku, bolos pramuka dan pelajaran, sampai sering terlambat ke sekolah dan akhirnya tidak diperbolehkan  untuk masuk alias bolos sekolah.

Peranku kali ini adalah guru atau pengajar. Seringkali aku ingin tertawa, ketika aku masuk di kelas-kelas dan duduk di meja guru kelas melihat mereka berseragam sepertiku dulu. Saat upacara pun, aku juga ingin tertawa. Melihat dulu aku yang harusnya panas-panasan di lapangan, sekarang aku berdiri di bawah gedung tua yang menjadi kantor guru tidak perlu kepanasan. Apalagi ketika aku harus menjaga tes. Melihat keresahan mereka ketika mengerjakan soal tes, berusaha untuk buka contekan dan bertanya kepada temannya. Rasanya seperti flashback.

Balada Guru Baru nan Muda

Aku yang seorang guru baru dan terbilang muda, lagi masih lajang, yang notabene-nya tidak ada basic guru seringkali agak kaku ketika harus menegur murid. Kaku mungkin karena aku dulu pernah ada di posisi mereka dan apa yang mereka lakukan aku juga pernah melakukan sebelumnya. Bisa dikatakan aku kena karma.

Tapi tidak semuanya. Bisa dibilang senakal-nakalnya aku, aku termasuk siswi yang pendiam. Heheh... terbukti dari omongan beberapa guru dan karyawan yang sekarang jadi teman kerjaku. Senakal-nakalnya aku, aku masih harus menghormati guru dan menghargai sesama murid. Ini benar. Aku tidak bohong.

Jadilah, rentan umurku dan muridku yang tidak terlalu jauh membuatku tidak bisa berwibawa seperti guru-guru lama yang sudah ada. Aku jadi lebih berteman dengan para muridku. Perpaduan antara guru dan teman kalau di sekolah. Jika aku harus bersikap macam guru-guru yang sudah lama, terang saja aku tidak bisa.

Bahkan selama aku menjadi guru di sekolahku dulu, beberapa murid laki-laki terkadang bercanda layaknya mereka menggoda teman wanita mereka. Untunglah mereka masih dalam batasan. Kalau tidak mungkin sudah kulempar pakai sepatu.

Ada diantara mereka, yang aku lihat sedikit serius tentang godaan mereka kepadaku. Terbukti tanpa sengaja beberapa kali kupergoki muridku itu sedang mencoba curi pandang, juga dari beberapa pertanyaan cukup serius di luar pelajaran yang pernah ia lontarkan kepadaku. Tapi tidak pernah aku tanggapi dengan serius pertanyaan-pertanyaannya bahkan sering kali kuabaikan.

Terkadang beberapa siswi tiba-tiba merangkulku dari belakang. Tapi aku tidak menolak, ketika mereka ingin berteman denganku. Yang terpenting bagaimana aku mesti bersikap profesional ketika dalam kelas dan tidak subjektif saat aku harus memberikan nilai kepada mereka.
Senang berjumpa dengan mereka. Meskipun kadang membuatku sedikit jengkel karena sikap ngeyel  mereka dan hobi game online  mereka yang membuatku harus teriak-teriak sebelum kelas dimulai. Tapi percayalah, sejengkel-jengkelnya gurumu ini kepada kalian, tidak marah sebegitunya.

Aku hanya ingin mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana harus membagi waktu antara belajar dan bermain. Jujur saja, selama di kelas aku lebih senang memberikan wejangan-wejangan kepada para muridku. Karena ku rasa, wejangan tentang nilai kehidupan dan etika itu jauh lebih penting dibandingkan kurikulum.

Aku selalu mengatakan kepada para murid, bahwa tak masalah saat mereka mendapatkan nilai jelek ketika tes atau ulangan. Yang terpenting mereka sudah berusaha dan tanpa mencontek atau bertanya teman itu bukanlah masalah.

Murid harus berani belajar dari kesalahannya. Selama ini kulihat, para murid cenderung  takut mendapatkan nilai jelek sehingga mereka mengerjakan tes atau ulangan dengan cara curang – tidak sprotif. Padahal dari situ mereka akan tahu kesalahan cara belajar mereka dan bisa memperbaiki untuk ke depannya menjadi jauh lebih baik.

Aku juga tidak pernah meminta mereka harus mendapatkan nilai yang nyaris sempurna di setiap mata pelajaran yang aku ampu. Karena aku tahu, setiap pribadi mereka memiliki kecerdasan masing-masing. Aku tidak pernah bisa memaksakan ikan untuk pandai memanjat, burung untuk berenang, kura-kura untuk berlari. Seperti itulah aku ibaratkan murid-muridku.

Keputusanku

Setelah 1,5 th aku mengajar kuputuskan untuk aku undur diri dari sekolah. Bukan karena murid yang menjengkelkan, bukan karena aku tidak menyukai rekan-rekan kerjaku. Bukan!
Tidak ada masalah sebenarnya ketika aku harus memberikan meteri di kelas. Aku senang untuk presentasi dan sebelumnya aku juga sudah mengajar di yayasan anak sampai saat ini. Bukan juga administrasi pembelajaran yang pernah kulakukan gila-gilaan untuk pertama kali tanpa aku tahu bagimana administrasi pembelajaran itu, karena akreditasi.

Cukup menekan memang, tapi aku bisa menyelesaikan dengan cukup baik tanpa harus belajar RPP, silabus dkk-nya dua SKS. Setengah tahun menunggu waktu akreditasi yang belum jelas kapan akan dilaksankan sembari membuat administrasi pembelajaran yang rasanya tidak pernah selesai-selesai. What the fuck memang. Membuat hidup tidak tenang.

Pernah semalam suntuk aku melembur bersama kedua teman laki-laki yang sama-sama tidak memiliki dasar membuat administrasi pembelajaran. Sampai sebegitunya.
Alasan yang tepat aku undur, karena aku tahu bahwa pendidikan yang aku miliki sebenarnya tidak cukup mewadahi untuk menjadi seorang pengajar. Jika aku serius menekuni profesi ini, tentunya aku harus melanjutkan pendidikanku lagi.

Alasan lain aku undur karena ada sesuatu yang harus aku kejar. Semua tentang cita-cita yang mesti diusahakan untuk terwujud agar tak men-daki jadi mimpi. Aku masih muda dan selagi masih lajang tak ada salahnya aku mewujudkannya. Cita-cita yang mestinya sudah kulakoni dengan kesungguhan sejak lama.

Selain itu, masalah waktu. Bekerja di dua tempat yang berbeda. Menuntutku untuk belajar profesional karena aku memperoleh gaji dari keduanya. Waktu tersita hanya untuk bekerja dan bekerja setiap hari. Tanpa mengenal libur atau tanggal merah sekalipun.
Selesai mengajar harus langsung lanjut kerja di yayasan anak. Pulang dari kantor mesti mengerjakan pekerjaan sekolah seperti, harus mempersiapkan materi dan sebagainya. Waktuku habis untuk bekerja, istirahat pun banyak tersita demi menyelesaikan pekerjaan. Tenagaku pun habis oleh pekerjaan.

Pekerjaan yang awalnya ragu-ragu untuk aku ambil dan ragu-ragu aku teruskan, hingga akhirnya aku bertahan hanya tiga semester. Dari yang awalnya kami masuk bertiga dan berteman dengan seorang guru muda lain, dan jadilah kami berteman baik hingga akhirnya bisa dikatakan aku sebatang kara. Kedua temanku yang terlebih dahulu undur diri untuk menggapai cita-cita mereka dan ditengah semester ini, teman yang tinggal satu-satunya diajak diskusi harus pergi karena telah dipanggil oleh Tuhan.

Mengingat hal-hal tersebut, dengan sedikit berat hati kuputuskan untuk undur dari sekolah. Kuharap murid-murid yang badung itu akan memperoleh guru yang jauh lebih baik dari gurumu ini.

Terimakasih untuk setiap pengalaman yang ada.



Share: