Wednesday, January 29, 2014

Gak Perlu Segitunya Kali?

Kecil di besar-besarkan, hijau jadi merah, A tiba-tiba jadi J. Itu yang terjadi akhir-akhir ini dan puncakknya ada pada hari ini.

Selasa malam 28 Januari 2014, usai aktivitasku berakhir dan kembali ke tempat di mana aku menengelamkan seluruh lelahku dalam sebuah imajinasi yang tertutup. Handphone putih sederhana yang kubeli sekitar dua tahun lalu bergetar. Satu pesan dari salah satu anggota Litbang Scientiarum. “Len. SMS semua pimpinan besok kosongkan jadwal ... penting dan tanpa bertanya kenpa ...”.

Ketika aku menerima pesan itu, aku radak bingung dengan kata ‘kosongkan jadwal’. Dan kembali aku balas dengan kebingungan itu. “Kosongkan jadwal maksudnya, cari waktu luang?” balasku dalam sebuah pesan singkat. “Iya, besok semua di SA,” jawabnya kembali.

Seketika aku kirim pesan singkat kepada tiga orang pimpinan di SA. Pinpinan Umum (PU), Manager Bisnis ( Manbis) dan Kepala Litbang (Kalitbang) sedangkan dari Kepala Keseketariatan tidak kukirim pesan itu karena tak ada nomornya di handphoneku.

Dari PU dia membalas SMS-ku. “Ada apa Len?” dan dari Kalitbang  membalas, “Jam berapa?” namun tak ku balas ulang. Aku masih tenang-tenang saja ketika mendapat pesan tersebut.
Hingga hari, tanggal dan suasana pun berganti aku masih tenang dan tak tahu tentang duduk permasalahannya. Siang, seusai aku berjumpa dan mengobrol di kafetaria kampus dengan teman dekatku yang telah berminggu-minggu tak berjumpa, aku berlanjut datang ke SA. Sekedar nongkrong dan seperti biasa, nyuwung.

Tak lama dengan waktu itu, salah satu anggota baru yang masih berstatus magang menayakan suatu hal yang tak aku tahu tentang permasalahan anatara SA dan Senat Mahasiswa Universitas SMU).

Dan aku hanya bilang bahwa aku tak tahu tentang itu semua. Lalu dia bercerita singkat. Dia menceritakan bahwa semalam dua orang anggota SMU yang juga merupakan anggota magang SA, datang dan mengatakan tentang hal menginap di SA.

Jujur, aku tahu baru tentang itu. Bahkan aku juga tak tahu bahwa sore tadi akan ada forum yang dihadiri dari SMU, BPMU, SA, PR III dan salah satu anggota K3 (Keamanan).

“Duluan ya, mau kelas dulu,” pamitku kepada teman-teman yang ada di SA.

“Mau kemana Len? Nanti jam 4 sore kita ada rapat sama PR III,” kata temanku yang meminta SMS ke para pimpinan SA (tadi).

“Oh, nanti rapat? Tapi ini aku ada kelas. Soalnya itu kelas independen,” jawabku.

“Ya nanti izin dulu aja Len. Boleh kan?” sahut PU.

“Rapatnya jam berapa?” tanyaku kembali.

“Jam 4, 5an lah. Nanti biar aku SMS,” Kata PU.

Ok.” Jawabku sambil berjalan meninggalkan SA.

Sore itu, dosenku mengatakan bahwa kelas nanti jam 4 sore di kantornya. Maklum, karena kami hanya kuliah 3 orang dengan dosen. Sambil menunggu waktu, aku dan teman kuliahku memutuskan untuk sekedar duduk-duduk dan menyeduh kopi instan di kafetaria.

Keadaan kafe saat itu memang tak terlalu padat hanya saja setiap meja sudah dipenuhi dengan anak manusia. Kebetulan, di situ kami berjumpa dengan PU, Menbis, Redpel, anggota baru dan satu teman lainnya.

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk bersama mereka dan sekedar mengobrol permsalahan yang gembar-gembor ‘gak jelas.

Katanya hanya bermasalah karena SA sering jadi tempat menginap, katanya lagi karena ada yang memergoki ada botol minuman keras di SA, katanya lagi karena masalah rokok. Katanya, katanya, dan katanya terus.

Beberapa teman SA kami memang sering menginap di SA. Aku pun juga pernah walau tak sesering mereka.

Tapi kami punya alasan kenapa kami sering menginap. Yah, namanya saja Lembaga Pers Mahasiswa yang sering dikejar dengan deadline. Sedangkan antara editor dan reporter kesulitan menentukan waktu untuk mengedit bersama selain malam hari.

Akhir-akhir ini memang cukup banyak tulisan yang masuk ke editor. Sedangkan editor hanya ada dua.

Akhirnya tiba waktu kami berjumpa dan say hello dengan beberapa teman-teman SMU, Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU), PR III, K3 dan SA sendiri di sebuah ruang rapat PR III yang tak terlalu luas.

Singkat sajalah. Dalam forum yang kami hadiri itu, jujur hanya sekedar berkutat mencari masalah yang kira-kira bisa dibicarakan (menurutku).

Sering menginaplah, lempar-lemparan tentang siapa yang mecahin kacalah, parkiran di depan gedung LKU lah. Apalah tadi, lupa. Dan ngantuk sendiri dengarnya. Buang-buang waktu.

Untunglah, dua bos besar mahasiswa UKSW yaitu Ketua Umum BPMU dan Ketua Umum SMU bisa lebih tegas. Dan sependapatlah sama mereka. Juga setiap jawaban-jawaban yang diberikan Bapak PR III yang baru, bikin hati dan pikiran lebih tenang. Orangnya netral.

Setelah bermenit-menit hanya berputar pada permasalahan, bertemulah dengan apa yang sebenarnya dipermasalahkan. Hanya karena KOP surat izin menginap tercantum Senat Mahasiswa Universitas tapi tidak diketahui oleh pihak SMU dan yang bertanda tangan selalu berganti-ganti. Bukan PU.

Hanya karena itu. Inti yang kudapat selama forum berlangsung. Kalau masalah seperti ini, kenapa harus dikaitkan dengan kaca yang pecah dan lain sebagainya. Pakai dibawa ke forum kelembagaan lagi.

Tapi ada bagusnya lah. Sesekali duduk berdiskusi bareng. Kalau ‘gak gitu, kapan bisa berjumpa dan berdiskusi bersama. Ada maknanya juga. Setiap malam di depan gedung LKU jadi ‘gak banyak motor yang nyempitin jalam masuk keluar Gedung LKU.


Share:

1 comment: