Kecil
di besar-besarkan, hijau jadi merah, A tiba-tiba jadi J. Itu yang terjadi
akhir-akhir ini dan puncakknya ada pada hari ini.
Selasa
malam 28 Januari 2014, usai aktivitasku
berakhir dan kembali ke tempat di mana aku menengelamkan seluruh lelahku dalam sebuah
imajinasi yang tertutup.
Handphone putih sederhana yang kubeli sekitar dua tahun lalu bergetar. Satu
pesan dari salah satu anggota Litbang Scientiarum.
“Len. SMS semua pimpinan besok kosongkan
jadwal ... penting dan tanpa bertanya kenpa ...”.
Ketika
aku menerima pesan itu, aku radak
bingung dengan kata ‘kosongkan jadwal’. Dan kembali aku balas dengan
kebingungan itu. “Kosongkan jadwal
maksudnya, cari waktu luang?” balasku dalam sebuah pesan singkat. “Iya, besok semua di SA,” jawabnya
kembali.
Seketika
aku kirim pesan singkat kepada tiga orang pimpinan di SA. Pinpinan Umum (PU),
Manager Bisnis ( Manbis) dan Kepala Litbang (Kalitbang) sedangkan dari Kepala
Keseketariatan tidak kukirim pesan itu karena tak ada nomornya di handphoneku.
Dari
PU dia membalas SMS-ku. “Ada apa Len?”
dan dari Kalitbang membalas, “Jam berapa?” namun tak ku balas ulang.
Aku masih tenang-tenang saja ketika mendapat pesan tersebut.
Hingga
hari, tanggal dan suasana pun berganti aku masih tenang dan tak tahu tentang
duduk permasalahannya. Siang, seusai aku berjumpa dan mengobrol di kafetaria
kampus dengan teman dekatku yang telah berminggu-minggu tak berjumpa, aku
berlanjut datang ke SA. Sekedar nongkrong dan seperti biasa, nyuwung.
Tak
lama dengan waktu itu, salah satu anggota baru yang masih berstatus magang menayakan suatu hal yang tak
aku tahu tentang permasalahan anatara SA dan Senat Mahasiswa Universitas SMU).
Dan
aku hanya bilang bahwa aku tak tahu tentang itu semua. Lalu dia bercerita
singkat. Dia menceritakan bahwa semalam dua orang anggota SMU yang juga merupakan anggota magang SA, datang
dan mengatakan tentang hal menginap di SA.
Jujur,
aku tahu baru tentang itu. Bahkan aku juga tak tahu bahwa sore tadi akan ada
forum yang dihadiri dari SMU, BPMU, SA, PR III dan salah satu anggota K3
(Keamanan).
“Duluan
ya, mau kelas dulu,” pamitku kepada teman-teman yang ada di SA.
“Mau
kemana Len? Nanti jam 4 sore kita ada rapat sama PR III,” kata temanku yang
meminta SMS ke para pimpinan SA (tadi).
“Oh,
nanti rapat? Tapi ini aku ada kelas. Soalnya itu kelas independen,” jawabku.
“Ya
nanti izin dulu aja Len. Boleh ‘kan?” sahut PU.
“Rapatnya
jam berapa?” tanyaku kembali.
“Jam
4, 5an lah. Nanti biar aku SMS,”
Kata PU.
“Ok.” Jawabku sambil berjalan
meninggalkan SA.
Sore
itu, dosenku mengatakan bahwa kelas nanti jam 4 sore di kantornya. Maklum,
karena kami hanya kuliah 3 orang dengan dosen. Sambil menunggu waktu, aku dan
teman kuliahku memutuskan untuk sekedar duduk-duduk dan menyeduh kopi instan di
kafetaria.
Akhirnya
kami memutuskan untuk duduk bersama mereka dan
sekedar mengobrol permsalahan yang gembar-gembor
‘gak jelas.
Katanya
hanya bermasalah karena SA sering jadi tempat menginap, katanya lagi karena ada
yang memergoki ada botol minuman keras di SA, katanya lagi karena masalah
rokok. Katanya, katanya, dan katanya terus.
Beberapa
teman SA kami memang sering menginap di SA. Aku pun juga pernah walau tak
sesering mereka.
Tapi
kami punya alasan kenapa kami sering menginap. Yah, namanya saja Lembaga Pers
Mahasiswa yang sering dikejar dengan deadline. Sedangkan antara editor dan
reporter kesulitan menentukan waktu untuk mengedit bersama selain malam hari.
Akhir-akhir
ini memang cukup banyak tulisan yang masuk ke editor. Sedangkan editor hanya
ada dua.
Akhirnya
tiba waktu kami berjumpa dan say hello
dengan beberapa teman-teman
SMU, Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU), PR III, K3 dan SA sendiri di sebuah ruang rapat PR III yang tak
terlalu luas.
Singkat
sajalah. Dalam forum yang kami hadiri itu, jujur hanya sekedar berkutat mencari masalah yang kira-kira
bisa dibicarakan (menurutku).
Sering
menginaplah, lempar-lemparan tentang siapa yang mecahin kacalah, parkiran di
depan gedung LKU lah. Apalah tadi, lupa. Dan ngantuk sendiri dengarnya.
Buang-buang waktu.
Untunglah,
dua bos besar mahasiswa UKSW yaitu Ketua Umum BPMU dan Ketua Umum SMU bisa lebih
tegas. Dan sependapatlah sama mereka. Juga setiap jawaban-jawaban yang
diberikan Bapak PR III yang baru, bikin hati dan pikiran lebih tenang. Orangnya
netral.
Setelah
bermenit-menit hanya berputar pada permasalahan, bertemulah dengan apa yang
sebenarnya dipermasalahkan. Hanya karena KOP surat izin menginap tercantum Senat Mahasiswa Universitas tapi tidak
diketahui oleh pihak SMU dan yang bertanda tangan selalu berganti-ganti. Bukan
PU.
Hanya
karena itu. Inti yang kudapat selama forum berlangsung. Kalau masalah seperti
ini, kenapa harus dikaitkan dengan kaca yang pecah dan lain sebagainya. Pakai
dibawa ke forum kelembagaan lagi.
Tapi
ada bagusnya lah. Sesekali duduk berdiskusi bareng. Kalau ‘gak gitu, kapan bisa berjumpa dan berdiskusi bersama. Ada maknanya
juga. Setiap malam di depan gedung LKU jadi ‘gak banyak motor yang nyempitin jalam masuk keluar Gedung LKU.
Sepele sih tapi dibahasnya bertele-tele. Hahaha
ReplyDelete