Tuesday, May 06, 2014

Cerita Perdana Kerja Praktek

Hari pertama Kerja Praktek (KP). Ini bukan pertama kalinya aku merasakan bagaimana KP atau yang biasa disebut dengan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Semasa aku berseragam putih dan abu-abu, aku menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di kota kecil Salatiga.

Salah satu hal yang wajib dilakukan para siswa SMK yaitu PKL. Masa itu aku mendapatkan tempat PKL yang cukup kutempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit sampai, yang tak lain sekarang adalah tempat dimana aku kuliah.

Lebih menyengakan rasanya kala itu, dibanding dengan kegiatan belajar di sekolah. Memang tak mendapat bayaran, namun lebih menyenangkan. Kebetulan waktu itu ada beberapa teman yang satu tempat PKL dan aku bersama ke 3 temanku yang lain mendapat tempat di bagian akuntansi.
Jadi aku tak begitu merasa canggung ketika berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja di tempat tersebut.

Dan saat ini ketika aku harus berjuang untuk mendapatkan gelar (salah satunya), aku harus berjuang sendiri untuk memperoleh tempat KP (sebutan dalam fakultasku). Tak mudah rasanya dan yang paling berat adalah melawan diri sendiri yaitu malas!

Berbeda ketika aku SMK, di SMK ada beberapa pilihan tempat PKL. Tinggal pilih, jika dikehendaki oleh sekolah ya tinggal berangkat. Jika tidak yam au tak mau harus nurut dengan sekolah.
Sekali lagi, kali ini aku harus berjuang sendiri. Tak pernah tahu kemana aku harus mencarai tempat KP dengan syarat-syarat tertentu yang telah ditentukan oleh progdi. Tak ada kenalan dan aku bukan type orang yang tak sungkan meminta bantuan kepada orang lain.

Terlalu besar rasa sungkan yang aku miliki dan aku harus mencarai sendiri.

Sebelumnya orang tuaku sudah mendapatkan tempat KP untukku yaitu di sebuah kantor peternakan ayam di dekat rumahku. Namun sayangnya, aku harus ditempat tidak luar kota. Antara Yogyakarta atau Solo.

Sebenarnya tak masalah bagiku. Tapi perlu beberapa pertimbangan jika aku harus ke luar kota. Yang pertama, tak usah berbelit lagi yaitu biya yang harus dikeluarkan lebih oleh orang tuaku. Semenjak aku bekerja aku jarang sekali meminta uang kepada orang tuaku (kalau tidak kepepet). Bahkan aku berusaha untuk membayar uang kuliah dengan hasil kerja dan mengandalkan beasiswa yang aku dapatkan.

Jadi tidak mungkin aku meminta uang sebanyak itu kepada orang tua. Sudah terlanjur, sekali lagi: “sungkan”.

Dan alas an yang kedua adalah, di semester ini aku tidak sekedar KP namun harus menyelesaikan Tugas Akhir (TA) disemester ini juga. Bisa dikata, sebagai syarat kelulusan (gantinya skripsi). Jadi mau tak mau, satu seminggu sekali aku harus ke kampus untuk bimbingan.

Jika diperhitungkan biaya dan juga tenaga pastilah membengkak. Jadi kuputuskan untuk mencari di daerah Salatiga dan sekitarnya. Benar-benar bingung mencarinya.

Memang aku akui, aku orang yang banyak berpikir suka beronani dengan otak. Tak cepat ambil keputusan bahkan tak memiliki pendirian. Dan akhirnya aku nekat untuk mengajukan proposal KP di perusahan anakan yang cukup besar dan memiliki cabang, bisa dikatakan sudah bonafit.
Sebelumnya, temanku pernah KP di situ. Aku dengar di tempat itu jika tidak ada yang membawa (orang dalam) akan kesulitan untuk kita bisa masuk sebagai mahasiswa PKL. Temanku menawarkan dan aku terima.

Aku sempat bareng dengannya untuk menyerahkan proposalku. Temanku saat itu bermakasud untuk meminta surat kepada perusahaan, entah surat apa aku juga tak ingat.

Satu minggu lebih, perusahaan aku hubungi via telepoh namun belum ada jawaban. Yang jawabannya masih mau dipelajarilah, HRDnya gak ada lah. Capek sendiri! Sempat ingin aku putuskan untuk cari tempat lain, jika sekali saja aku telepon dan jawabannya hanya itu lagi dan lagi.

Akhirnya, aku diterima di perusahaan tersebut. Cukup jauh memang.

Dan di hari pertama ini. Pagi sekitar pukul 06.15 aku berangkat dari rumah. Untuk ke sana aku harus menaiki bus jurusan semarang/ungaran. Cukup lama aku menuggu bus kecil untuk datang menjemput.

Hampir setengah jam, bus kecil yang telah sesak diisi oleh anak manusia menjemput. Tempatnya penuh sesak. Sudah tak ada kursi, bahkan harus bergantulan dimuka. Syukurlah, aku tak sampai ke muka. Dan dalam bus kecil itu diisi oleh para perempuan. Hanya dua lelaki, sopir dan salah satu lelaki yang juga ikut bergelantungan di depan pintu bus kecil.

Saat itu, aku merasa cukup bangga menjadi seorang perempuan. Kesetaraan genderpun terjadi di bus. Kebetulan di situ aku berjumpa dengan salah satu temanku yang bekerja di salah satu pabrik yang ada di kabupatan. Aku bertanya, jika berangkat jam segini, lalu pulang jam berapa? Jawabnya,”Jam 8 kadang jam 7 malam.”

Bagiku mereka adalah sosok wanita hebat. Sering dikatakan sebagai buruh, tapi bagiku mereka adalah para malaikat penolong orang-orang yang beruang. Mereka kaya karena ada orang-orang yang disebut buruh ini yang memperkaya mereka dengan bekerja.

Karena bus terlalu kecil dan aku sedikit lupa akan jalan yang ada, sialnya aku keblabasan. Cukup jauh memang. Akhirnya aku harus menyebrang dan balik lagi mencari bus lain. Pengalaman yang cukup malu namun juga geli.

Sampai di sana, belum terlalu banyak karyawan datang. Karena memang masih terlalu pagi aku sampai di kantor.

Setelah cukup banyak karyawan datang dan jam sudah menunjukkan waktu kerja kantor, seorang wanita berjilbab orange dengan corak beberapa warna mengenkan kacamata datang. “Tunggu kedua temanmu ya, seperempat jam lagi.”

Tak lama dari itu, datang 2 orang lelaki. Satu mengenakan kacamata bekemeja cokelat dengan membopong tas ransel. Seorang yang lain, telihat penuh rambut tumbuh disekitar dagunya dan tangannya terlihat penuh dengan bulu yang lebat.

Aku ingin Sok kenal Sok Dekat (SKSD), tapi takut bila mereka bukan mahasiswa yang ingin KP atau penelitian. Jangan-jangan mereka juga bekerja di perusahaan lain dan memiliki kepentingan lain. Oh ternyata dugaanku salah, mereka adalah mahasiswa dari universitas di Semarang yang akan melakukan penelitian untuk skripsi. Habis mukanya pada boros (batinku).

Cukup lama kami menunggu. Mereka saling bercerita, namun aku hanya diam. Tak kenal. Hampir 45 menit kami dipanggil untuk masuk ke ruang rapat. Di situlah baru kami mulai mengobrol sedikit, sok-sok berbasa-basi tanya.

Sebenarnya ada sedikit kelegaan jika ada teman yang juga ikut KP di tempat itu. Tapi sayang lagi, kami berbeda tempat. Mereka pada mesin dan aku hanya sendiri di dalam kantor.
Cukup kikuk memang. Pekerjaan pertama adalah men-scan segepok kertas dan setelah itu menginputnya pada sebuah system yang tersedia. Capek juga.

Saat jam istirahat tibapun, aku juga merasa seperti orang hilang. Keluar sendiri, cari makan sendiri dan makan sendiri. Sebenarnya aku tak menyukai makan sendiri bila tak di rumah sendiri.
Jam pulang pun tiba, dengan percaya diri aku mengahadang bus kecil dengan tangan kananku dan menaikinya. Tak lama kemudian si kenek menyebut-nyebut kota yang bukan tujuanku. Baru aku menyadari aku salah bus.

Kuputuskan untuk berhenti di tengah jalan dan cari bus lain yang sesuai jurusan kotaku. Dapat juga, setelah dapat, lagi dan lagi. Aku harus berdiri cukup lama.

Pengalaman pertama pergi ke tempat KP yang jarang aku lewati.

Hanya memohon kepada Tuhan yang telah memberikan aku tempat KP. Lancarkan KP-ku sampai benar-benar berakhir, tunjukkan topic dan judul yang sesuai dan terbaik untuk aku angkat dalam TA, bisa menyelesaikan TA tepat waktu sehingga bisa lulus di semester ini juga.

Semoga lancer KPTA-ku. Amin …
Share:

0 comments:

Post a Comment