Hari
pertama Kerja Praktek (KP). Ini bukan pertama kalinya aku merasakan bagaimana
KP atau yang biasa disebut dengan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Semasa aku
berseragam putih dan abu-abu, aku menempuh pendidikan di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) swasta di kota kecil Salatiga.
Salah satu
hal yang wajib dilakukan para siswa SMK yaitu PKL. Masa itu aku mendapatkan
tempat PKL yang cukup kutempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 10
menit sampai, yang tak lain sekarang adalah tempat dimana aku kuliah.
Lebih
menyengakan rasanya kala itu, dibanding dengan kegiatan belajar di sekolah.
Memang tak mendapat bayaran, namun lebih menyenangkan. Kebetulan waktu itu ada
beberapa teman yang satu tempat PKL dan aku bersama ke 3 temanku yang lain
mendapat tempat di bagian akuntansi.
Jadi aku
tak begitu merasa canggung ketika berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja
di tempat tersebut.
Dan saat
ini ketika aku harus berjuang untuk mendapatkan gelar (salah satunya), aku
harus berjuang sendiri untuk memperoleh tempat KP (sebutan dalam fakultasku).
Tak mudah rasanya dan yang paling berat adalah melawan diri sendiri yaitu
malas!
Berbeda
ketika aku SMK, di SMK ada beberapa pilihan tempat PKL. Tinggal pilih, jika
dikehendaki oleh sekolah ya tinggal berangkat. Jika tidak yam au tak mau harus
nurut dengan sekolah.
Sekali
lagi, kali ini aku harus berjuang sendiri. Tak pernah tahu kemana aku harus
mencarai tempat KP dengan syarat-syarat tertentu yang telah ditentukan oleh
progdi. Tak ada kenalan dan aku bukan type orang yang tak sungkan meminta
bantuan kepada orang lain.
Terlalu
besar rasa sungkan yang aku miliki dan aku harus mencarai sendiri.
Sebelumnya
orang tuaku sudah mendapatkan tempat KP untukku yaitu di sebuah kantor
peternakan ayam di dekat rumahku. Namun sayangnya, aku harus ditempat tidak
luar kota. Antara Yogyakarta atau Solo.
Sebenarnya
tak masalah bagiku. Tapi perlu beberapa pertimbangan jika aku harus ke luar
kota. Yang pertama, tak usah berbelit lagi yaitu biya yang harus dikeluarkan
lebih oleh orang tuaku. Semenjak aku bekerja aku jarang sekali meminta uang
kepada orang tuaku (kalau tidak kepepet). Bahkan aku berusaha untuk membayar
uang kuliah dengan hasil kerja dan mengandalkan beasiswa yang aku dapatkan.
Jadi tidak
mungkin aku meminta uang sebanyak itu kepada orang tua. Sudah terlanjur, sekali
lagi: “sungkan”.
Dan alas an
yang kedua adalah, di semester ini aku tidak sekedar KP namun harus
menyelesaikan Tugas Akhir (TA) disemester ini juga. Bisa dikata, sebagai syarat
kelulusan (gantinya skripsi). Jadi mau tak mau, satu seminggu sekali aku harus
ke kampus untuk bimbingan.
Jika
diperhitungkan biaya dan juga tenaga pastilah membengkak. Jadi kuputuskan untuk
mencari di daerah Salatiga dan sekitarnya. Benar-benar bingung mencarinya.
Memang aku
akui, aku orang yang banyak berpikir suka beronani dengan otak. Tak cepat ambil
keputusan bahkan tak memiliki pendirian. Dan akhirnya aku nekat untuk
mengajukan proposal KP di perusahan anakan yang cukup besar dan memiliki
cabang, bisa dikatakan sudah bonafit.
Sebelumnya,
temanku pernah KP di situ. Aku dengar di tempat itu jika tidak ada yang membawa
(orang dalam) akan kesulitan untuk kita bisa masuk sebagai mahasiswa PKL.
Temanku menawarkan dan aku terima.
Aku sempat bareng dengannya untuk menyerahkan
proposalku. Temanku saat itu bermakasud untuk meminta surat kepada perusahaan,
entah surat apa aku juga tak ingat.
Satu minggu
lebih, perusahaan aku hubungi via telepoh namun belum ada jawaban. Yang
jawabannya masih mau dipelajarilah, HRDnya gak ada lah. Capek sendiri! Sempat
ingin aku putuskan untuk cari tempat lain, jika sekali saja aku telepon dan
jawabannya hanya itu lagi dan lagi.
Akhirnya,
aku diterima di perusahaan tersebut. Cukup jauh memang.
Dan di hari
pertama ini. Pagi sekitar pukul 06.15 aku berangkat dari rumah. Untuk ke sana
aku harus menaiki bus jurusan semarang/ungaran. Cukup lama aku menuggu bus
kecil untuk datang menjemput.
Hampir
setengah jam, bus kecil yang telah sesak diisi oleh anak manusia menjemput.
Tempatnya penuh sesak. Sudah tak ada kursi, bahkan harus bergantulan dimuka.
Syukurlah, aku tak sampai ke muka. Dan dalam bus kecil itu diisi oleh para
perempuan. Hanya dua lelaki, sopir dan salah satu lelaki yang juga ikut
bergelantungan di depan pintu bus kecil.
Saat itu,
aku merasa cukup bangga menjadi seorang perempuan. Kesetaraan genderpun terjadi
di bus. Kebetulan di situ aku berjumpa dengan salah satu temanku yang bekerja
di salah satu pabrik yang ada di kabupatan. Aku bertanya, jika berangkat jam
segini, lalu pulang jam berapa? Jawabnya,”Jam 8 kadang jam 7 malam.”
Bagiku
mereka adalah sosok wanita hebat. Sering dikatakan sebagai buruh, tapi bagiku
mereka adalah para malaikat penolong orang-orang yang beruang. Mereka kaya
karena ada orang-orang yang disebut buruh ini yang memperkaya mereka dengan
bekerja.
Karena bus
terlalu kecil dan aku sedikit lupa akan jalan yang ada, sialnya aku keblabasan. Cukup jauh memang. Akhirnya
aku harus menyebrang dan balik lagi mencari bus lain. Pengalaman yang cukup
malu namun juga geli.
Sampai di
sana, belum terlalu banyak karyawan datang. Karena memang masih terlalu pagi
aku sampai di kantor.
Setelah
cukup banyak karyawan datang dan jam sudah menunjukkan waktu kerja kantor,
seorang wanita berjilbab orange dengan corak beberapa warna mengenkan kacamata
datang. “Tunggu kedua temanmu ya, seperempat jam lagi.”
Tak lama
dari itu, datang 2 orang lelaki. Satu mengenakan kacamata bekemeja cokelat
dengan membopong tas ransel. Seorang yang lain, telihat penuh rambut tumbuh
disekitar dagunya dan tangannya terlihat penuh dengan bulu yang lebat.
Aku ingin
Sok kenal Sok Dekat (SKSD), tapi takut bila mereka bukan mahasiswa yang ingin
KP atau penelitian. Jangan-jangan mereka juga bekerja di perusahaan lain dan
memiliki kepentingan lain. Oh ternyata dugaanku salah, mereka adalah mahasiswa
dari universitas di Semarang yang akan melakukan penelitian untuk skripsi.
Habis mukanya pada boros (batinku).
Cukup lama
kami menunggu. Mereka saling bercerita, namun aku hanya diam. Tak kenal. Hampir
45 menit kami dipanggil untuk masuk ke ruang rapat. Di situlah baru kami mulai
mengobrol sedikit, sok-sok berbasa-basi tanya.
Sebenarnya
ada sedikit kelegaan jika ada teman yang juga ikut KP di tempat itu. Tapi
sayang lagi, kami berbeda tempat. Mereka pada mesin dan aku hanya sendiri di
dalam kantor.
Cukup kikuk
memang. Pekerjaan pertama adalah men-scan segepok kertas dan setelah itu
menginputnya pada sebuah system yang tersedia. Capek juga.
Saat jam
istirahat tibapun, aku juga merasa seperti orang hilang. Keluar sendiri, cari
makan sendiri dan makan sendiri. Sebenarnya aku tak menyukai makan sendiri bila
tak di rumah sendiri.
Jam pulang
pun tiba, dengan percaya diri aku mengahadang bus kecil dengan tangan kananku
dan menaikinya. Tak lama kemudian si kenek menyebut-nyebut kota yang bukan
tujuanku. Baru aku menyadari aku salah bus.
Kuputuskan
untuk berhenti di tengah jalan dan cari bus lain yang sesuai jurusan kotaku.
Dapat juga, setelah dapat, lagi dan lagi. Aku harus berdiri cukup lama.
Pengalaman
pertama pergi ke tempat KP yang jarang aku lewati.
Hanya
memohon kepada Tuhan yang telah memberikan aku tempat KP. Lancarkan KP-ku
sampai benar-benar berakhir, tunjukkan topic dan judul yang sesuai dan terbaik
untuk aku angkat dalam TA, bisa menyelesaikan TA tepat waktu sehingga bisa
lulus di semester ini juga.
Semoga lancer
KPTA-ku. Amin …
0 comments:
Post a Comment