Seketika kau ingin memberontak
atas semua hal yang kau alami. Mengapa setiap orang hanya mampu menuntut dan
mencacat tindakkanmu. Tanpa manusia-manusia tolol itu mengerti, bagaimana
dengan atmosfer dan ketiadaan yang ada kala itu. Kau hanya seorang kutu kencur.
Yang tak memiliki kekuatan dan pengalaman seperti mereka yang tolol, namun
mengaku dirinya cerdas. Tanpa melihat dan merasakan sendiri dan tak mampu
bertindak. Teori memang mudah untuk dipahami, namun prakteknya?
Lalu
kau berusaha mencoba berjalan sendiri tanpa arah. Selama kau berjalan, kakimu
sering terperosok ke dalam kubangan-kubangan. Dan manusia-manusia tolol itu
mentertawakan mu, terbahak-bahak bagai anjing gila. Keadaan yang menuntutmu
untuk memiliki tingkat keegoan yang tinggi.
Dalam
hatimu berkata, 'Terkadang atau bahkan seringkali ego harus dimunculkan untuk
sekedar bertahan dalam kompetisi. Kompetisi yang mau tak mau harus diladeni.'
Kemudian
pikir dan hatimu mempertanyakan "keadialan". Dimana keadilan itu kau
bisa kau dapatkan? Sehingga kau terlahir dan harus menjalani keremehan macam
itu. Di sekolah? Sekolah hanya untuk mereka yang berduit, pandai yang diukur
dengan angka. Kau yang bodoh, kau yang lemah tak pantas di ranah akademik. Tak
pantas untuk mengubah nasib dan takdir. Pantasnya, kau hanya bermimpi.
Iblis?
Dia hanyalah pusat dari ketidakadilan dan kemaksiatan. Lalu bagaimana dengan
Tuhan? Tuhan agung dan kuasa. Yang mengijinkan rasa mu benar-benar lelah, yang
menuntut mu kerja lebih keras dibanding mereka. Mereka yang memiliki lebih dari
dirimu. Sampai mana dan kapan Tuhan-mu menguji engkau, dengan segala kekurangan
dan kelemahan.
Hingga
akhirnya kau benar-benar merasa lelah. Lalu kau dinggap para manusia lain,
bagai iblis yang terlihat. Itu yang diinginkan iblis darimu. Sedangkan Tuhan,
mau apa darimu? Dan kau belum jua mendapati jawaban itu.
0 comments:
Post a Comment