Dan
ketika itu semua menjadi nyata, hati ini akan terasa pilu, menari tanpa arah,
linglung dan tak paham. Rasa itu telah merasuk dalam lubang-lubang
jiwa, menggemparkan! Terasa seperti alunan musik mengalir begitu pekatnya. Hati
ini telah terbasahi, setelah sekian lama hanya sekedar bergumam dan merasakan
kehausan yang teramat dalam.
Ingin
ku hapus benar ini semua. Rasanya, tak ada keinginan untuk merasakan ini. Namun tetap jua, ia
bersikukuh. Aku pun tak kuasa melawannya. Memcikkan mata dan menulikan telinga,
itu yang ku ingini saat itu. Hati ini terasa menerima ketukan keras, keras hingga itu semua membangunkan ku.
Dan
ketika, hati yang kumiliki terbangun, mimpiku membangunkan ku dalam mimpiku.
Ter sadar kau masih saja hidup dalam belenggu-belenggu mimpi. Aku pun tak pernah paham
tentang arti mimpi dalam mimpi itu.
Dan
aku tertawa, berucap dalam hati, bergumam 'selamat'. Hatiku terus memunculkan
tanya. Apa itu, siapa ini, mengapa begini, haruskah begini, bagaimana dengan
ini, mungkinkah begitu, di manakah itu, kenapa, kenapa, kenapa
dan mungkinkah?
Lalu, kubiarkan ini semua bergelut dalam pikir dan rasa, ku coba rasa-rasa lagi, lagi dan lagi. Dan aku mulai paham. Namun, tetap jua aku tak paham sepenuhnya. Masih saja aku bertanya, kenapa ini, untuk apa dan mungkinkah itu? Aku tetap saja tak kuasa untuk menampik.
Jika
ini memang garis takdir yang telah digariskan kepadaku, izinkan aku untuk
memiliki itu dengan sesungguhnya. Bukan lagi dalam mimpi atau pun mimpi dalam
mimpi. Sanggup tersenyum, tertawa dan bergerak bebas di kehidupan sesungguhnya
yang abadi.
Salatiga, 6 April 2013
Pukul 20.33 WIB
0 comments:
Post a Comment