Untuk
kesekian, aku hanya mampu terdiam.
Terdiam,
mulutku pun terkunci dan aku tak pernah tahu tentang keberadaan kunci itu
Dan
malam ini, penuh orang tertawa, mengusir angin malam hanya untuk sekedar
bergurau
Jiwaku
teringkuk di sudut ini
Dan khayalku mulai berkeliaran tak punyai aturan
Dan khayalku mulai berkeliaran tak punyai aturan
Jiwaku
tersa mengambang, bagai kapas yang tertiup angin
Seakan
jiwaku sedang beronani dengan otakku
Aku
mulai tertawa sendiri tanpa peduli dengan tata moral
Seketika
angin menyadarkanku dan aku terlepas dari khayal liar
Aku
kembali terdiam, menunggu setiap detak
jantung waktu
Jantungku
tiba-tiba tersentak akan suara dentigan lonceng berkali-kali
Dentingan
itu semakin tak tak beraturan bunyinya, sama seperti khayalku
Tak
peduli dengan aturan moral
Ku
tiggalkan khayalku dan aku menikmati suara-suara lonceng itu
Dan
lagi, hanya angin malam yang berkawan denganku
Terkagum megahnya kerlap-kerlip
cahaya penghias malam
0 comments:
Post a Comment