Tuesday, December 24, 2013

“Angin”, Teman di Malam Kudus

Untuk kesekian, aku hanya mampu terdiam.
Tersudut dengan angin malam, yang mulai menggrogoti pori-pori kulitku
Terdiam, mulutku pun terkunci dan aku tak pernah tahu tentang keberadaan kunci itu
Dan malam ini, penuh orang tertawa, mengusir angin malam hanya untuk sekedar bergurau
Jiwaku teringkuk di sudut ini
Dan khayalku mulai berkeliaran tak punyai aturan
Jiwaku tersa mengambang, bagai kapas yang tertiup angin
Seakan jiwaku sedang beronani dengan otakku
Aku mulai tertawa sendiri tanpa peduli dengan tata moral
Seketika angin menyadarkanku dan aku terlepas dari khayal liar
Aku kembali  terdiam, menunggu setiap detak jantung waktu
Jantungku tiba-tiba tersentak akan suara dentigan lonceng berkali-kali
Dentingan itu semakin tak tak beraturan bunyinya, sama seperti khayalku
Tak peduli dengan aturan moral
Ku tiggalkan khayalku dan aku menikmati suara-suara lonceng itu
Dan lagi, hanya angin malam yang berkawan denganku
Terkagum megahnya kerlap-kerlip cahaya penghias malam
Share:

0 comments:

Post a Comment