Sebuah
imajinasi
yang tak terbendung dalam hujan kali ini. Aku berkaca dan bertatap muka dengannya.
Hujan telah mengiringi jiwaku, pergi bersama sang angin. Namun ragaku tetap di
sini. Tinggal bersama dengan derunya
hujan, yang menghantam tanah.
Aku
meringkuk diam, hanya mampu mendengar suara namun tak mampu berucap. Raguku
begitu dingin, terselimut oleh angin sore ini.
Saat
itu, aku hanya mampu bergumam
dengan sendiri, di dalam hati. Aku pun merintih, merasakan tusukan angin dan
air hujan yang menetes di raguku lalu perlahan meresap ke dalam pori-poriku.
Jiwaku
pun pergi entah kemana. Dan aku tak mampu menuntut dia kembali.
Seketika,
ragaku terketuk. Mendengar sebuah seruan. Dan aku hanya mampu berdiam, tanpa
bertindak. Air terjatuh semakin ganas. Aku merasa ketakutan, takut, takut,
takut, semakin takut, bertambah takut, dan semakin bertambah takut.
Raguku
menjadi semakin kaku, tak kuasa berdiri dan kesakitan itu mulai datang. Namun
jiwaku belum juga kembali. Tiba-tiba,
deruan itu datang. Kali ini berbeda, semakin kencang dan tak hanya dalam satu
sumber. Mereka bersahut-sahutan, semakin keras.
Ah
... seperti ada sesuatu yang memasuki ragaku secara cepat. Dan jiwa yang hilang
itu pun menghentakkan ragaku. Kembali memasuki alam sadar dan jiwa ini penuh
cerita dalam ragaku.
0 comments:
Post a Comment