Memang tak
bisa dipungkiri, bahwa managemen kehidupan terbaik dan luar biasa hanya Tuhan.
Luar biasa
Tuhan bekerja dalam kehidupan saya. Dalam tulisan ini saya tak bermaksud untuk
bersaksi. Sekedar bercerita. Namun jika kamu mengangap bahwa tulisan ini adalah
sebuah bentuk kesaksian, Puji Tuhan. Bila kamu mengangap tulisan ini pantasnya
di buang di tong sampah, maka silahkan tutup dan jangan lanjutkan membaca.
Kehidupanku
itu simpel, ‘gak neko-neko (tidak
aneh-aneh). Dalam artian, tidak ada hal yang benar-benar indah layaknya cerita
di film bioskop, FTV , cerpen ataupun novel. Benar-benar proses hidup yang
sederhana.
Namun
dibalik kesederhanaan proses kehidupan saya, Tuhan bekerja dengan benar-benar
sangat luar biasa. Ehm, tunggu. Mungkin kalimat pertama di paragraf ini tidak
dibenarkan oleh para editor (ups). Tapi memang saya tidak bisa mengungkapkan
kebesaran dan kebaikan Tuhan baik dengan kata-kata verbal ataupun non-verbal.
Kenapa saya
tuliskan itu, karena memang itulah yang saya rasakan. Sebenarnya dalam hal duniawi,
saya seorang yang kurang beruntung. Tetapi saya sangat beruntung, karena sampai
saat ini saya masih percaya adanya Tuhan itu.
Sudah
hampir 21 tahun saya melakoni kehidupan ini. Dari susah, senang, kecewa, tertawa,
menangis, segala perasaan yang ada sudah saya rasakan. Termasuk jatuh cinta dan
patah hati *heleh*.
Saya
terlahir di keluarga yang sederhana. Tidak begitu kaya, tapi puji Tuhan tak
juga miskin. Cukuplah.
Kehidupan
dalam berkeluarga pun, juga tak selancar air mengalir di tepian sungai dan tak
seindah pelangi sehabis hujan.
Saya pernah
merasakan bagaimana roda perekonomian keluarga berputar. Beruntung, waktu kecil
masih bisa merasakan keturutan apa
yang di mau. Heheheh
Saya memang
tidak paham dengan benar, kenapa keluarga saya seperti ini. Dan bapak saya
kehilang pekerjaan sebagai Kepala Bagian Gudang di sebuah perusahaan swasta
kala itu. Sampai sekarang saya juga tak pernah menanyakan hal itu kepada
orangtua saya. Kenapa dan bagaimana itu terjadi. Memang saya apatis.
Keluarga
saya bisa dikatakan, keluarga Pancasila. Walau tidak ada 5 agama yang
melengkapi di keluarga, tapi yah sebut saja seperti itulah. Tapi tak ada yang
benar-benar dekat kepada Tuhan.
Saya juga sering
merasa iri terhadap teman-teman saya. Saya merasa, mereka lebih dan lebih
sangat beruntung. Selalu tercapai apa yang diimpikan. Entah itu barang,
berwisata bahkan mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Saya hanya
lulusan dari sekolah negeri yang sangat sederhana dan sekolah swasta yang
sangat sederhana. Bahkan bisa dikatakan saya selalu menempuh pendidikan di
sekolahan anak-anak nakal dan kurang mampu (walau tidak semua).
Waktu
mendekati kelulusan SMP, saya berkeinginan untuk melanjutkan sekolah di luar
kota. Walau saya tak tahu sekolah mana. Tapi saya tak pernah mengatakan hal itu
kepada orangtua, karena tidak tega.
Karena saya
merasa tak memiliki tujuan yang pasti, akhirnya saya masuk di SMK (bekas
sekolah bapak saya), yang sebenarnya tidak begitu saya inginkan. Karena harus
berjumpa dengan teman-teman yang sama (SMP). Bukan karena ada masalah ataupun
tidak cocok. Melainkan saya ingin cari suasana dan teman-teman yang baru.
Kelulusan
SMK pun sudah mendekat. Siap-siap lepaskan seragam sekolah yang sudah penuh
pilox. Lagi-lagi saya tak memiliki tujuan.
Hati
berkata bahwa saya ingin melanjutkan kuliah, menyandang gelar sarjana. Tapi
saya tak pernah berani bilang tentang keinginan saya untuk kuliah. Mengingat
biaya yang akan dikeluarkan jika saya kuliah. Mustahil.
Tetapi,
sepertinya orangtua saya peka terhadap isi hati anaknya. Dan saya pun
melanjutkan kuliah. Sebenarnya keinginan hati ingin masuk sastra. Tapi karena
di universitas di kota saya tinggal, hanya ada sastra Inggris dan itu pun
modelnya seperti dipersiapkan untuk menjadi guru bahasa Inggris.
Sebenarnya
tak masalah. Tapi uang lagi. Uang pembangunan yang tinggi, melebihi tingginya
gedung-gedung yang ada di kampus. Jika harus keluar kota, saya akan merasa
kasihan kepada orangtua. Harus memikirkan biaya hidup lagi.
Sebelum saya
masuk di jurusan yang saya kuliahin
ini, sebenarnya cukup banyak penawaran. Dari kuliah di Jogja, Semarang dan
Tegal. Tapi entah, hati ‘gak srek. Bukan takut untuk merantau.
Sebenarnya merantau itu keinginan saya sejak SMP. Tapi ya itu tadi, merasa
kurang srek.
Dan ketika
saya mau masuk di universitas di kota kecil ini, saya juga ditawari beberapa
beasiswa. Bahkan beasiswa sampai 100%. Puji Tuhan. Tapi lagi-lagi beasiswa yang
ada bukan untuk jurusan yang saya harapakan. Tidak ada satu pun.
Cukup galau
memilih jurusan. Saat itu, sudah ada pilihan S1 Akuntansi, S1 FKIP Matematika
atau S1 Sosiologi.
Dan luput
semua. Dalam artian, saya seperti ada keraguan untuk ambil salah satu jurusan
yang ada di atas. Entah juga, selalu gagal mengerti isi hati sendiri.
Benar-benar
pikiran saya luput. Akhirnya saya masuk di salah satu fakultas yang tak pernah
saya lirik sedikit pun dari dulu. Salah satu fakultas yang besar di universitas
itu dan juga terbilang cukup mahal.
Entah, bagaimana
Tuhan meyakinkan saya untuk masuk di jurusan yang ada di fakultas itu. Walau
hanya D III. Awalnya saya ragu-ragu dan ada sedikit kecewa. Bertanya dalam
hati. Kenpa Tuhan hanya berkehendak saya masuk D III?
Sekali lagi,
saya benar-benar tak tahu persis bagaimana Tuhan memantapkan hati saya untuk
masuk di DIII. Walaupun beberapa orang, termasuk keluarga mengatakan, kalau
masuk D III itu tanggung sekali. Tapi
entahlah. Mungkin Tuhan punya maksud lain dalam hidup saya.
Dalam
perjalanan kuliah saya, juga tak selancar seperti hembusan angin yang meniup
untuk menyejukkan raga. Cukup ada banyak
kendala dari keuangan, fasilitas, dan IQ yang saya miliki.
Namun Tuhan
selalu cukupkan segala sesuatu yang saya perlukan dengan tepat waktu. Tak lebih
dan tak kurang. Mungkin, jika saya ceritakan di sini akan sangat panjang. Yang
jelas Tuhan selalu cukupkan.
Dan untuk
IQ yang saya miliki. Entah berapa IQ saya. Jika berada di dalam kelas, saya selalu
merasa menjadi seorang mahasiswi yang paling bodoh di kelas (pah-poh). IP saya tak terlalu tinggi dan
sangat standar.
Terkadang
saya bertanya kepada diri saya sendiri dan Tuhan. Apakah sebodoh itu saya? Atau
salah masuk jurusan kah saya ini? Tapi saya percaya ini kehendak dan rencana
Tuhan. Bahkan sampai di semester-semester akhir saya kuliah, rasanya masih
terlihat gelap. Belum mengerti dari apa yang Tuhan mau dengan ini semua.
Sisi lain
dari perjalanan kuliah. Di kampus, saya juga belajar hal lain yang tak pernah
saya pelajari dengan sungguh. Dan lagi, tak pernah ada di benak untuk terjun ke
dunia itu. Yaitu jurnalistik.
Sebelum
masuk kuliah, bayangan terbesar saya ketika nanti menjadi mahasiswi adalah
menjadi aktivis kampus dan berkeinginan untuk masuk ke Senat.
Lagi-lagi,
Tuhan hanya berkehendak saya untuk berkhayal. Dan saya mulai jatuh hati dengan
dunia menulis. Walau sampai saat ini, tulisan saya masih ambu radul.
Hanya
bermodal iseng, ingin tahu dan keberanian saya masuk di jurnalistik. Bahkan
keingin untuk belajar pada awalnya tidak ada. Tuhan memang berkata, Ia tak akan
pernah menjadikan anak-Nya sebagai ekor melainkan kepala.
Tak ada
bayangan juga untuk menjadi pemimpin di organisasi. Mengingat saya tak pernah
berorganisasi dan selalu pasif menjadi siswa di jaman sekolah.
Kurang
lebih 1,5 periode saya dipercaya untuk menjadi pemimpin redaksi (mungkin kala
itu ‘gak terlalu banyak orang). Tidak mudah bagi saya untuk membawa redaksi.
Tak ada banyak mahasiswa yang benar-benar tertarik di jurnalistik. Dan tidak
adanya pengalaman dalam berorganisasi pula yang membuat saya sesak selama
memimpin.
Masih
banyak juga sandungan-sandugan ketika saya memimpin. Tapi hal itulah yang akan
memperbaiki kualitas. Entah itu kulitas diri ataupun organisasi.
Hanya
sekedar bermodal ketekunan, kerja keras, menghargai setiap orang entah dari
kalangan manapun dan belajar bertanggung jawab serta komitmen. Hanya itu yang
saya usung, sehingga karir meningkat. Soal potensi, masih ada banyak teman yang
lebih berpotensi.
Beruntung
juga, saya mendapati fakultas lain seperti ini di tempat kuliah. Dengan gratis,
ilmu dapat, pengalaman dapat, mental pun juga dapat.
Beruntung
lagi, karena saya diberikan kesempatan untuk bekerja (part time). Memang lelah,
tapi ada kebanggan tersendiri. Bayar uang kuliah, jajan, bersosial dan membeli
apapun dari hasil keringat sendiri. Dan memang lebih nikmat.
Bersyukur
pula, orangtua saya adalah orang-orang yang liberal. Membebaskan dan memberikan
kepercayaan penuh kepada setiap anaknya. Apapun langkah yang ingin diambil oleh
anak-anaknya. Jarang sekali melarang namun juga tak pernah mendapati dukungan.
Orangtua
juga selalu mengajarkan, jika kamu ingin memiliki sesuatu. Milikilah dengan
uangmu sendiri. Tanpa harus meminta kepada orangtua. Bukannya pelit. Jika saya
atau saudara saya meminta dan kebetulan ada uang lebih, pastilah dikasih.
Tapi kami
tak terbiasa dengan uang dari pemberian orangtua untuk membeli barang-barang
yang diinginkan. Mengenal dengan mereka
semua; orangtua, keluarga, saudara, teman itu adalah sebuah bentuk rencana
Tuhan dalam kehidupan.
Ketika
Tuhan memberikan pertolongan penuh dalam hidup, saya justru menjauh dari-Nya.
Seperti tidak ada rasa kerinduan untuk datang mengucap syukur. Sejak itulah, saya
jarang sekali untuk datang beribadah di gereja setiap minggu. Tak pernah
menghadiri komsel dan lain sebagainya. Hanya ikut sekolah minggu (tapi itu
dulu, waktu kecil).
Bahkan saya
juga sangat jarang untuk membaca firman dan berdoa. Datang berdoa, hanya ketika
ada masalah datang. Dan lama kelamaan saya merasa malu sendiri dengan Tuhan.
Menyadari bahwa saya tak lebih dari seorang yang munafik.
Terkadang
saya merasa benci kepada orang-orang yang melayani dan tekun dalam beribadah
namun pola kehidupan mereka lebih parah dari orang-orang yang tak mengenal
Tuhan. Dari situ juga, saya tambah malas untuk beribadah. Sering saya merasa
bahwa, ibadah di gereja setiap minggu hanya sekedar rutinitas dan bentuk
kemunafikan dari para anak manusia.
Tak hanya
itu. Jujur saya pernah merasakan kekecewaan kepada Tuhan. Pernah menyalahkan
Tuhan. Tapi bila diresapi, saya sendiri yang merasa malu kepada Tuhan. Kenapa saya
harus kecewa dan menyalahkan Tuhan atas kehidupan ini.
Tuhan tak
pernah salah. Saya lah yang salah. Tak
pernah mengucap syukur. Tapi Tuhan masih selalu setia.
Hingga
suatu ketika (lupa tepatnya kapan), seperti ada ketukan yang keras namun lembut
di dalam hati. Rindu akan Tuhan. Beberapa hari bahkan sudah bisa dikatakan
hampir beberapa minggu, rasanya hidup ini hanya untuk memuji dan menyembah
Tuhan. Tak ada hal yang lebih indah selain menikmati hadirat Tuhan.
Memang saya
belum pernah dikaruniai bahasa Roh yang sudah dialami oleh beberapa orang.
Namun ketika penyembahan dan saya mengangkat tangan, saya pernah merasakan
tangan saya bergetar sendiri dengan cukup kencang. Sadar iya, tapi tak pernah
tahu itu dari mana dan saya tak pernah membuat-buat.
Dan saya
begitu menikmati hal semacam itu.
Proses
hidup yang sederhana, namun luar biasa. Dan saya percaya bahwa, Tuhan masih dan
akan selalu bekerja di dalam kehidupan saya dengan luar biasa indahnya.
Masa depan
yang penuh harapan dan luar biasa.
Mungkin
bagi kamu yang belum mengalami pekerjaan Tuhan, kemungkinan kamu tidak akan
percaya, mengangap bahwa tulisan ini hanya sekedar ngibul, terlalu lebay
atau apalah. Dan memang bila diceritakan tak begitu indah, karena proses
kehidupan saya yang begitu sederhana namun indah untuk dinikmati.
Sekarang
dan sampai selamanya, saya percaya Tuhan selalu memberikan yang terbaik dalam
kehidupan saya.
Saya ucapkan
penuh syukur kepada Tuhan atas proses hidup yang diberikan dan setiap orang
yang saya temui.
Saya harap
kamu mengalami kehidupan bersama Tuhan lebih indah dari saya.
>>
Maaf sebelumnya bila banyak kalimat yang tidak nikmat untuk dibaca. Karena ini
sekedar menulis cerita.
0 comments:
Post a Comment