Tuesday, March 11, 2014

Thank God

Memang tak bisa dipungkiri, bahwa managemen kehidupan terbaik dan luar biasa hanya Tuhan.

Luar biasa Tuhan bekerja dalam kehidupan saya. Dalam tulisan ini saya tak bermaksud untuk bersaksi. Sekedar bercerita. Namun jika kamu mengangap bahwa tulisan ini adalah sebuah bentuk kesaksian, Puji Tuhan. Bila kamu mengangap tulisan ini pantasnya di buang di tong sampah, maka silahkan tutup dan jangan lanjutkan membaca.

Kehidupanku itu simpel, ‘gak neko-neko (tidak aneh-aneh). Dalam artian, tidak ada hal yang benar-benar indah layaknya cerita di film bioskop, FTV , cerpen ataupun novel. Benar-benar proses hidup yang sederhana.

Namun dibalik kesederhanaan proses kehidupan saya, Tuhan bekerja dengan benar-benar sangat luar biasa. Ehm, tunggu. Mungkin kalimat pertama di paragraf ini tidak dibenarkan oleh para editor (ups). Tapi memang saya tidak bisa mengungkapkan kebesaran dan kebaikan Tuhan baik dengan kata-kata verbal ataupun non-verbal.

Kenapa saya tuliskan itu, karena memang itulah yang saya rasakan. Sebenarnya dalam hal duniawi, saya seorang yang kurang beruntung. Tetapi saya sangat beruntung, karena sampai saat ini saya masih percaya adanya Tuhan itu.

Sudah hampir 21 tahun saya melakoni kehidupan ini. Dari susah, senang, kecewa, tertawa, menangis, segala perasaan yang ada sudah saya rasakan. Termasuk jatuh cinta dan patah hati *heleh*.

Saya terlahir di keluarga yang sederhana. Tidak begitu kaya, tapi puji Tuhan tak juga miskin. Cukuplah.

Kehidupan dalam berkeluarga pun, juga tak selancar air mengalir di tepian sungai dan tak seindah pelangi sehabis hujan.

Saya pernah merasakan bagaimana roda perekonomian keluarga berputar. Beruntung, waktu kecil masih bisa merasakan keturutan apa yang di mau. Heheheh

Saya memang tidak paham dengan benar, kenapa keluarga saya seperti ini. Dan bapak saya kehilang pekerjaan sebagai Kepala Bagian Gudang di sebuah perusahaan swasta kala itu. Sampai sekarang saya juga tak pernah menanyakan hal itu kepada orangtua saya. Kenapa dan bagaimana itu terjadi. Memang saya apatis.

Keluarga saya bisa dikatakan, keluarga Pancasila. Walau tidak ada 5 agama yang melengkapi di keluarga, tapi yah sebut saja seperti itulah. Tapi tak ada yang benar-benar dekat kepada Tuhan.
Saya juga sering merasa iri terhadap teman-teman saya. Saya merasa, mereka lebih dan lebih sangat beruntung. Selalu tercapai apa yang diimpikan. Entah itu barang, berwisata bahkan mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Saya hanya lulusan dari sekolah negeri yang sangat sederhana dan sekolah swasta yang sangat sederhana. Bahkan bisa dikatakan saya selalu menempuh pendidikan di sekolahan anak-anak nakal dan kurang mampu (walau tidak semua).

Waktu mendekati kelulusan SMP, saya berkeinginan untuk melanjutkan sekolah di luar kota. Walau saya tak tahu sekolah mana. Tapi saya tak pernah mengatakan hal itu kepada orangtua, karena tidak tega.

Karena saya merasa tak memiliki tujuan yang pasti, akhirnya saya masuk di SMK (bekas sekolah bapak saya), yang sebenarnya tidak begitu saya inginkan. Karena harus berjumpa dengan teman-teman yang sama (SMP). Bukan karena ada masalah ataupun tidak cocok. Melainkan saya ingin cari suasana dan teman-teman yang baru.

Kelulusan SMK pun sudah mendekat. Siap-siap lepaskan seragam sekolah yang sudah penuh pilox. Lagi-lagi saya tak memiliki tujuan.

Hati berkata bahwa saya ingin melanjutkan kuliah, menyandang gelar sarjana. Tapi saya tak pernah berani bilang tentang keinginan saya untuk kuliah. Mengingat biaya yang akan dikeluarkan jika saya kuliah. Mustahil.

Tetapi, sepertinya orangtua saya peka terhadap isi hati anaknya. Dan saya pun melanjutkan kuliah. Sebenarnya keinginan hati ingin masuk sastra. Tapi karena di universitas di kota saya tinggal, hanya ada sastra Inggris dan itu pun modelnya seperti dipersiapkan untuk menjadi guru bahasa Inggris.

Sebenarnya tak masalah. Tapi uang lagi. Uang pembangunan yang tinggi, melebihi tingginya gedung-gedung yang ada di kampus. Jika harus keluar kota, saya akan merasa kasihan kepada orangtua. Harus memikirkan biaya hidup lagi.

Sebelum saya masuk di jurusan yang saya kuliahin ini, sebenarnya cukup banyak penawaran. Dari kuliah di Jogja, Semarang dan Tegal. Tapi entah, hati ‘gak srek. Bukan takut untuk merantau. Sebenarnya merantau itu keinginan saya sejak SMP. Tapi ya itu tadi, merasa kurang srek.
Dan ketika saya mau masuk di universitas di kota kecil ini, saya juga ditawari beberapa beasiswa. Bahkan beasiswa sampai 100%. Puji Tuhan. Tapi lagi-lagi beasiswa yang ada bukan untuk jurusan yang saya harapakan. Tidak ada satu pun.

Cukup galau memilih jurusan. Saat itu, sudah ada pilihan S1 Akuntansi, S1 FKIP Matematika atau S1 Sosiologi.

Dan luput semua. Dalam artian, saya seperti ada keraguan untuk ambil salah satu jurusan yang ada di atas. Entah juga, selalu gagal mengerti isi hati sendiri.

Benar-benar pikiran saya luput. Akhirnya saya masuk di salah satu fakultas yang tak pernah saya lirik sedikit pun dari dulu. Salah satu fakultas yang besar di universitas itu dan juga terbilang cukup mahal.

Entah, bagaimana Tuhan meyakinkan saya untuk masuk di jurusan yang ada di fakultas itu. Walau hanya D III. Awalnya saya ragu-ragu dan ada sedikit kecewa. Bertanya dalam hati. Kenpa Tuhan hanya berkehendak saya masuk D III?

Sekali lagi, saya benar-benar tak tahu persis bagaimana Tuhan memantapkan hati saya untuk masuk di DIII. Walaupun beberapa orang, termasuk keluarga mengatakan, kalau masuk D III itu tanggung sekali.  Tapi entahlah. Mungkin Tuhan punya maksud lain dalam hidup saya.

Dalam perjalanan kuliah saya, juga tak selancar seperti hembusan angin yang meniup untuk menyejukkan raga.  Cukup ada banyak kendala dari keuangan, fasilitas, dan IQ yang saya miliki.
Namun Tuhan selalu cukupkan segala sesuatu yang saya perlukan dengan tepat waktu. Tak lebih dan tak kurang. Mungkin, jika saya ceritakan di sini akan sangat panjang. Yang jelas Tuhan selalu cukupkan.

Dan untuk IQ yang saya miliki. Entah berapa IQ saya. Jika berada di dalam kelas, saya selalu merasa menjadi seorang mahasiswi yang paling bodoh di kelas (pah-poh). IP saya tak terlalu tinggi dan sangat standar.

Terkadang saya bertanya kepada diri saya sendiri dan Tuhan. Apakah sebodoh itu saya? Atau salah masuk jurusan kah saya ini? Tapi saya percaya ini kehendak dan rencana Tuhan. Bahkan sampai di semester-semester akhir saya kuliah, rasanya masih terlihat gelap. Belum mengerti dari apa yang Tuhan mau dengan ini semua.

Sisi lain dari perjalanan kuliah. Di kampus, saya juga belajar hal lain yang tak pernah saya pelajari dengan sungguh. Dan lagi, tak pernah ada di benak untuk terjun ke dunia itu. Yaitu jurnalistik.
Sebelum masuk kuliah, bayangan terbesar saya ketika nanti menjadi mahasiswi adalah menjadi aktivis kampus dan berkeinginan untuk masuk ke Senat.

Lagi-lagi, Tuhan hanya berkehendak saya untuk berkhayal. Dan saya mulai jatuh hati dengan dunia menulis. Walau sampai saat ini, tulisan saya masih ambu radul.
Hanya bermodal iseng, ingin tahu dan keberanian saya masuk di jurnalistik. Bahkan keingin untuk belajar pada awalnya tidak ada. Tuhan memang berkata, Ia tak akan pernah menjadikan anak-Nya sebagai ekor melainkan kepala.

Tak ada bayangan juga untuk menjadi pemimpin di organisasi. Mengingat saya tak pernah berorganisasi dan selalu pasif menjadi siswa di jaman sekolah.

Kurang lebih 1,5 periode saya dipercaya untuk menjadi pemimpin redaksi (mungkin kala itu ‘gak terlalu banyak orang).  Tidak mudah bagi saya untuk membawa redaksi. Tak ada banyak mahasiswa yang benar-benar tertarik di jurnalistik. Dan tidak adanya pengalaman dalam berorganisasi pula yang membuat saya sesak selama memimpin.

Masih banyak juga sandungan-sandugan ketika saya memimpin. Tapi hal itulah yang akan memperbaiki kualitas. Entah itu kulitas diri ataupun organisasi.

Hanya sekedar bermodal ketekunan, kerja keras, menghargai setiap orang entah dari kalangan manapun dan belajar bertanggung jawab serta komitmen. Hanya itu yang saya usung, sehingga karir meningkat. Soal potensi, masih ada banyak teman yang lebih berpotensi.

Beruntung juga, saya mendapati fakultas lain seperti ini di tempat kuliah. Dengan gratis, ilmu dapat, pengalaman dapat, mental pun juga dapat.

Beruntung lagi, karena saya diberikan kesempatan untuk bekerja (part time). Memang lelah, tapi ada kebanggan tersendiri. Bayar uang kuliah, jajan, bersosial dan membeli apapun dari hasil keringat sendiri. Dan memang lebih nikmat.

Bersyukur pula, orangtua saya adalah orang-orang yang liberal. Membebaskan dan memberikan kepercayaan penuh kepada setiap anaknya. Apapun langkah yang ingin diambil oleh anak-anaknya. Jarang sekali melarang namun juga tak pernah mendapati dukungan.

Orangtua juga selalu mengajarkan, jika kamu ingin memiliki sesuatu. Milikilah dengan uangmu sendiri. Tanpa harus meminta kepada orangtua. Bukannya pelit. Jika saya atau saudara saya meminta dan kebetulan ada uang lebih, pastilah dikasih.

Tapi kami tak terbiasa dengan uang dari pemberian orangtua untuk membeli barang-barang yang diinginkan.  Mengenal dengan mereka semua; orangtua, keluarga, saudara, teman itu adalah sebuah bentuk rencana Tuhan dalam kehidupan.

Ketika Tuhan memberikan pertolongan penuh dalam hidup, saya justru menjauh dari-Nya. Seperti tidak ada rasa kerinduan untuk datang mengucap syukur. Sejak itulah, saya jarang sekali untuk datang beribadah di gereja setiap minggu. Tak pernah menghadiri komsel dan lain sebagainya. Hanya ikut sekolah minggu (tapi itu dulu, waktu kecil).

Bahkan saya juga sangat jarang untuk membaca firman dan berdoa. Datang berdoa, hanya ketika ada masalah datang. Dan lama kelamaan saya merasa malu sendiri dengan Tuhan. Menyadari bahwa saya tak lebih dari seorang yang munafik.

Terkadang saya merasa benci kepada orang-orang yang melayani dan tekun dalam beribadah namun pola kehidupan mereka lebih parah dari orang-orang yang tak mengenal Tuhan. Dari situ juga, saya tambah malas untuk beribadah. Sering saya merasa bahwa, ibadah di gereja setiap minggu hanya sekedar rutinitas dan bentuk kemunafikan dari para anak manusia.

Tak hanya itu. Jujur saya pernah merasakan kekecewaan kepada Tuhan. Pernah menyalahkan Tuhan. Tapi bila diresapi, saya sendiri yang merasa malu kepada Tuhan. Kenapa saya harus kecewa dan menyalahkan Tuhan atas kehidupan ini.

Tuhan tak pernah salah. Saya lah yang salah. Tak pernah mengucap syukur. Tapi Tuhan masih selalu setia.

Hingga suatu ketika (lupa tepatnya kapan), seperti ada ketukan yang keras namun lembut di dalam hati. Rindu akan Tuhan. Beberapa hari bahkan sudah bisa dikatakan hampir beberapa minggu, rasanya hidup ini hanya untuk memuji dan menyembah Tuhan. Tak ada hal yang lebih indah selain menikmati hadirat Tuhan.

Memang saya belum pernah dikaruniai bahasa Roh yang sudah dialami oleh beberapa orang. Namun ketika penyembahan dan saya mengangkat tangan, saya pernah merasakan tangan saya bergetar sendiri dengan cukup kencang. Sadar iya, tapi tak pernah tahu itu dari mana dan saya tak pernah membuat-buat.

Dan saya begitu menikmati hal semacam itu.

Proses hidup yang sederhana, namun luar biasa. Dan saya percaya bahwa, Tuhan masih dan akan selalu bekerja di dalam kehidupan saya dengan luar biasa indahnya.

Masa depan yang penuh harapan dan luar biasa.

Mungkin bagi kamu yang belum mengalami pekerjaan Tuhan, kemungkinan kamu tidak akan percaya, mengangap bahwa tulisan ini hanya sekedar ngibul, terlalu lebay atau apalah. Dan memang bila diceritakan tak begitu indah, karena proses kehidupan saya yang begitu sederhana namun indah untuk dinikmati.

Sekarang dan sampai selamanya, saya percaya Tuhan selalu memberikan yang terbaik dalam kehidupan saya.

Saya ucapkan penuh syukur kepada Tuhan atas proses hidup yang diberikan dan setiap orang yang saya temui.

Saya harap kamu mengalami kehidupan bersama Tuhan lebih indah dari saya.

>> Maaf sebelumnya bila banyak kalimat yang tidak nikmat untuk dibaca. Karena ini sekedar menulis cerita.  


Share:

0 comments:

Post a Comment