Tak terasa, ini
adalah periode ke-3 ku
di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Scinetiarum. Sebenarnya, aku tak
mengerti dengan tujuan aku masuk di LPM. Dulu ketika aku masih menduduki
bangku sekolah, aku tak pernah mau mengaktivkan diri mengikuti organisasi atau
semacam ekstrakulikuler
yang ada di sekolahku.
Saat
terakhir menjadi seorang siswa di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang
sederhana, bila aku melajutkan studi yang lebih tinggi aku ingin
menjadi mahasiswa yang aktiv dalam organisasi dan pastilah berguna. Bukan
maksud agar diri ini dikenal banyak orang atau populer. Hanya bermasud menebus
kemalasan di zaman sekolah.
Begini ceritanya. Awalnya,
saat pulang dari masa Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) entah itu hari ke berapa
aku lupa,
di taman dekat
lapanga bola, aku melihat keramaian di situ. “Eh, itu apa ya? Kok ramai-ramai
gitu. Kaya orang jualan,” tanyaku pada temanku Else.
“Coba lihat
yuk,” ajaknya. Merasa penasaran, kami berdua bergegas menuju taman.
Aku lihat
satu per satu. Dan ternyata yang ramai adalah stan Kelompok Bakat Minat (KBM)
yang ada di aras universitas. Di situ aku mencari stan teater. Karena ketika
tahun terkahirku sekolah,
aku pernah mengikuti teater di sebuah sanggar dekat rumahku dan itu sangat
menyenangkan.
Tapi sayangnya, KBM yang aku cari-cari tidak kutemukan.
Lalu, aku
pun tertuju pada sebuah stan yang cukup ramai. Di situ aku melihat ada beberapa
majalah yang dipajang. Ketika kami datang, mereka menyapa
setiap pengunkung dengan
cukup hangat. Satu orang dianatara mereka menceritakan dengan singkat tentang Scientiarum. Kalau
tidak salah ingat, dia itu kak Rico yang sekarang menjabat Pimpinan Umum (PU)
periode 2013-2014.
“Scientiarum
merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang ada di universitas. Kalau mbaknya
tertarik untuk belajar jurnalistik silahkan untuk daftar,” kira-kira seperti
itulah dia menerangkan kepada kami berdua,
sambil menyodorkan sehelai formulir pendaftaran. “Bisa langsung diisi di sini,
atau bisa langsung datang ke kantor kami yang berada di gedung O,” tambahnya.
Hadech,
ternyata jurnalistik. Aku sempat sedikit bingung. Ku coba membuka majalah yang
ada dan aku memintanya. “Boleh ini dibawa pulang?” tanyaku pada salah satu orang Scientiarum yang tak kuingat
wajahnya. “Iya, bawa aja gak pa-pa,” jawab orang itu.
Hari pun telah berganti. Siang, seusai mendaftar dan membayar acara malam keakraban fakultas, aku beranjak menuju
gedung O.
“Aku mau
coba masuk ke yang kemarin itu lho. Yang jurnalistik itu,” kataku pada Else.
“Serius kamu mau masuk situ?” tanyanya tak begitu yakin terhadapku.
“Iya,
serius. Nih, formulir udah aku isi. Aku ajak bentar ya? Cuma mau kumpulin
formulir.”
Dengan
percaya diri aku masuk ke gedung O, yang sebenarnya aku tak mengerti itu gedung
apa. Dan akhirnya aku menemukan ruang Scientiarum. Waktu itu, ada 2 orang cowok
yang ada di ruangan, kalau tidak salah lagi, 2 cowok itu mas Dimas yang
sekarang ada di Menwa dan kak Welly yang ketika itu menjabat PU periode
2011-2012. “Permisi,
ini … apa sih nih bacanya? Mau ngumpulin formulir,” tanyaku sedikit tertatih
karena tidak bisa membaca tulisan Scientiarum dengan benar.
“Oh, iya
ya. Masuk aja,” jawab dari salah seorang di situ. Ketika itu, kak
Welly yang menerangkan
kepada kami tentang Scientiraum.
“Kalau mau
daftar, itu ada formulir langsung isi aja,” tawarnya. “Udah kok kak. Tinggal kumpul
doang,” jawabku. “Aku
jadi pengen masuk,” sahut Else.
Tak lama
kemudian Else langsung mengambil formulir, melengkapi dengan identitasnya dan meletakkkannya di tumpukkan
formulir.
Jika
saat itu aku ditanya kenapa masuk Scientiarum, aku pasti mati kutu tak bisa menjawabnya. Karena tak
ada alasan bagiku untuk masuk Scientiarum.
Sebenarnya,
dulu, aku tak begitu
tertarik pada jurnalistik. Bahkan tak ada bayangan sama sekali tentang juranalis. Ketika aku SD, lupa kelas berapa. Saat itu ada pelajaran bahasa
Indonesia yang sedikit membahas tentang jurnalistik, tentang 5W+1H.
Ketika guru menjelaskan sedikit tentang jurnalistik, aku memiliki bayangan
samar-samar tentang bagaimana kehidupan seorang jurnalis.
Kehidupan yang penuh tantangan dan beresiko tinggi, harus
memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Tapi entah kenapa hasil dari
keisenganku berubah menjadi keseriusan untuk memperlajari jurnalistik dan
menghabiskan waktu era kemahasiswaan selain berkuliah ya, di LPM Scientiarum.
Dari jurnalislah aku mengasah keberanian, belajar untuk
berbicara dengan orang yang belum pernah dikenal dan setelah itu menjadi kenal.
Juranlis bukan hanya belajar tentang menulis yang benar dan baik, entah benar
dan baik sebuah tulisan itu yang seperti apa.
Jurnalis pula yang mengajarkan untuk berpegang pada
kebenaran, mengerjakan tugas dengan
tepat waktu, belajar bertanggung jawab dan masih banyak pelajaran lain
dari jurnalis. Thank you LPM Scientiarum.
Mantap. Hehehe.
ReplyDelete