Monday, August 05, 2013

Iseng Berbuah Keseriusan

Tak terasa, ini adalah periode ke-3 ku di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Scinetiarum. Sebenarnya, aku tak mengerti dengan tujuan aku  masuk di LPM. Dulu ketika aku masih menduduki bangku sekolah, aku tak pernah mau mengaktivkan diri mengikuti organisasi atau semacam ekstrakulikuler yang ada di sekolahku.

Saat terakhir menjadi seorang siswa di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sederhana, bila aku melajutkan studi yang lebih tinggi aku ingin menjadi mahasiswa yang aktiv dalam organisasi dan pastilah berguna. Bukan maksud agar diri ini dikenal banyak orang atau populer. Hanya bermasud menebus kemalasan di zaman sekolah.

Begini ceritanya. Awalnya, saat pulang dari masa Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) entah itu hari ke berapa aku lupa, di taman dekat lapanga bola, aku melihat keramaian di situ. “Eh, itu apa ya? Kok ramai-ramai gitu. Kaya orang jualan,” tanyaku pada temanku Else.

“Coba lihat yuk,” ajaknya. Merasa penasaran, kami berdua bergegas menuju taman.

Aku lihat satu per satu. Dan ternyata yang ramai adalah stan Kelompok Bakat Minat (KBM) yang ada di aras universitas. Di situ aku mencari stan teater. Karena ketika tahun terkahirku sekolah, aku pernah mengikuti teater di sebuah sanggar dekat rumahku dan itu sangat menyenangkan.
Tapi sayangnya, KBM yang aku cari-cari tidak kutemukan.

Lalu, aku pun tertuju pada sebuah stan yang cukup ramai. Di situ aku melihat ada beberapa majalah yang dipajang. Ketika kami datang, mereka menyapa setiap pengunkung dengan cukup hangat. Satu orang dianatara mereka menceritakan dengan singkat tentang Scientiarum. Kalau tidak salah ingat, dia itu kak Rico yang sekarang menjabat Pimpinan Umum (PU) periode 2013-2014.

“Scientiarum merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang ada di universitas. Kalau mbaknya tertarik untuk belajar jurnalistik silahkan untuk daftar,” kira-kira seperti itulah dia menerangkan kepada kami berdua, sambil menyodorkan sehelai formulir pendaftaran. “Bisa langsung diisi di sini, atau bisa langsung datang ke kantor kami yang berada di gedung O,” tambahnya.

Hadech, ternyata jurnalistik. Aku sempat sedikit bingung. Ku coba membuka majalah yang ada dan aku memintanya. “Boleh ini dibawa pulang?” tanyaku pada salah satu orang Scientiarum yang tak kuingat wajahnya. “Iya, bawa aja gak pa-pa,” jawab orang itu.
Hari pun telah berganti. Siang, seusai mendaftar dan membayar acara malam keakraban fakultas, aku beranjak menuju gedung O.

“Aku mau coba masuk ke yang kemarin itu lho. Yang jurnalistik itu,” kataku pada Else. “Serius kamu mau masuk situ?” tanyanya tak begitu yakin terhadapku.

“Iya, serius. Nih, formulir udah aku isi. Aku ajak bentar ya? Cuma mau kumpulin formulir.”

Dengan percaya diri aku masuk ke gedung O, yang sebenarnya aku tak mengerti itu gedung apa. Dan akhirnya aku menemukan ruang Scientiarum. Waktu itu, ada 2 orang cowok yang ada di ruangan, kalau tidak salah lagi, 2 cowok itu mas Dimas yang sekarang ada di Menwa dan kak Welly yang ketika itu menjabat PU periode 2011-2012. “Permisi, ini … apa sih nih bacanya? Mau ngumpulin formulir,” tanyaku sedikit tertatih karena tidak bisa membaca tulisan Scientiarum dengan benar.

“Oh, iya ya. Masuk aja,” jawab dari salah seorang di situ. Ketika itu, kak Welly yang menerangkan kepada kami tentang Scientiraum.

“Kalau mau daftar, itu ada formulir langsung isi aja,” tawarnya. “Udah kok kak. Tinggal kumpul doang,” jawabku. “Aku jadi pengen masuk,” sahut Else.
Tak lama kemudian Else langsung mengambil formulir, melengkapi dengan identitasnya dan meletakkkannya di tumpukkan formulir.

Jika saat itu aku ditanya kenapa masuk Scientiarum, aku pasti mati kutu tak bisa menjawabnya. Karena tak ada alasan bagiku untuk masuk Scientiarum.

Sebenarnya, dulu, aku tak begitu tertarik pada jurnalistik. Bahkan tak ada bayangan sama sekali tentang juranalis. Ketika aku SD, lupa kelas berapa. Saat itu ada pelajaran bahasa Indonesia yang sedikit membahas tentang jurnalistik, tentang 5W+1H. Ketika guru menjelaskan sedikit tentang jurnalistik, aku memiliki bayangan samar-samar tentang bagaimana kehidupan seorang jurnalis.
Kehidupan yang penuh tantangan dan beresiko tinggi, harus memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Tapi entah kenapa hasil dari keisenganku berubah menjadi keseriusan untuk memperlajari jurnalistik dan menghabiskan waktu era kemahasiswaan selain berkuliah ya, di LPM Scientiarum.

Dari jurnalislah aku mengasah keberanian, belajar untuk berbicara dengan orang yang belum pernah dikenal dan setelah itu menjadi kenal. Juranlis bukan hanya belajar tentang menulis yang benar dan baik, entah benar dan baik sebuah tulisan itu yang seperti apa.

Jurnalis pula yang mengajarkan untuk berpegang pada kebenaran, mengerjakan tugas dengan  tepat waktu, belajar bertanggung jawab dan masih banyak pelajaran lain dari jurnalis. Thank you LPM Scientiarum.


Share:

1 comment: