Kemarin
Sabtu, aku kecewa dengan beberapa orang yang ada di divisi redaksi. Tidak ada
yang datang di rapat redaksi untuk membahas masa Orientasi Mahasiswa Baru (OMB)
dan beberapa isu lain seputaran kampus.
Hanya
Angga, salah satu anak foto yang datang awal dan disusul dengan Kotik. Aku
pikir, mungkin memang molor, karena itulah tradisi Scientiarum (SA) yang aku
tahu dari pertama aku masuk.
Sambil
menunggu aku bermain kartu bersama beberapa orang yang nangkring di Scientiarum. Awalnya aku tak ingin
main, karena aku tak mengerti dan tak biasa
bermain kartu. Tapi Angga dan Kotik tidak mau ikut bermain. Akhirnya aku
sok-sokan terjun ke permainan yang benar-benar aku tak mengerti.
Sudah
hampir setengah jam tak ada anak redaksi lagi yang nonggol. Merasa kasihan dengan
Angga dan Kotik yang sudah menunggu dari tadi, aku kirim SMS satu-satu ke
mereka. Hanya satu kata yang ku kirim. “Rapat.”
Tak
lama kemudian, handphone yang ku letakkan di atas meja permainan bergetar. Satu
pesan baru, dari nomor yang tak dikenal pula. Pesan dari kak Dylan, redaktur
pelaksana peridoe 2013-2014. “Bentar ini lagi mau otw. Dylan,” pesannya.
Lalu
aku melanjutkan permainan kembali.
Tapi sudah setengah jam, mungkin lebih kak
Dylan dan yang lain tidak datang.
Jikalau kemarin tidak ada yang absen, kira-kira hanya 9 orang termasuk aku dan
dua orang magang.
Karena
aku tak memiliki kontak magang yang lain. Dua minggu sebelum rapat, aku sudah
meminta kepada 3 orang tetua Scientiarum yang kira-kira memiliki nomor-nomor
anak magang.
Kak Vio, baru balas keesokkannya lewat facebook karena dia tidak memiliki saldo pulsa. Dan dia pun tak memiliki nomor anak-anak magang selain Ditha dan Mahendra. Tak ada balasan juga dari dari kak Kumas ataupun kak Rico.
Seusai
aku bekerja, ketika itu hari Selasa aku datang ke Scientiarum untuk mencari
nomor handphone yang ada di formulir, yang telah mereka isi. Waktu itu, ada
beberapa orang yang nangkring di Scientiarum. Tapi tak ada orang Scientiarum
yang masih dalam struktur di ruangan.
Aku
coba cari di map-map yang ada di rak buku. Tapi tak kudapati. Lalu aku bergegas
pulang karena sudah lelah. Sorenya, saat aku sudah berdiam diri di rumah, kak
Kumas meneleponku menayakan keberadaan kak Rico karena mamah-nya
kak Rico habis meneleponnya.
Kak Kumas juga memberiku
pesan, jika aku berjumpa kak Rico,
dia disuruh pulang ke kost atau balik telepon. Kira-kira seperti itu kak Kumas berpesan. Akupun langsung
menyampaikan pula ke kak Kumas, agar kak Rico segera mengirimi nomor handphone
anak-anak magang. Dan kak Kumas pun mengiyakannya.
Selang
sehari atau dua hari kemudian, aku kirim SMS lagi ke kak Kumas karena kak Rico
tak jelas mana nomornya yang aktiv. Dalam pesan itu, aku meminta tolong ke kak
Kumas untuk menyampaikan bahwa aku meminta nomor teman-teman magang yang masuk
divisi redaksi. Jika tidak memiliki saldo pulsa, aku memintanya mengirim lewat message facebook atau email. Atau kalau
tidak, aku memintanya untuk menaruh formulir mereka di tempat yang dapat
dijangkau, yang pastinya di dalam ruang Scientiarum.
Tak
juga ada balasan. Hari sudah berganti, tak ada pesan di handphoneku darinya ataupun di email ataupun di
facebook. Jumat, 23 Agustus 2013 aku datang ke Scientiarum. Tapi tak ada orang
di sana. Aku masuk dengan meminjam kunci di satpam yang ada di GAP.
Aku coba cari beberapa kali formulir-formulir itu, tapi tak ada juga. Tak ada pesan yang ditempel atau tercatat di papan putih. Kuputuskan untuk pulang.
Kemudian
aku berpikir jika aku menunggu mendapat semua nomor teman-teman yang magang, kapan mau rapat? Pada hal itu sudah
mendekati OMB dan web Scinetiarum pun sudah cukup istirahat. Ku putuskan untuk rapat redaksi di
hari berikutnya yaitu Sabtu. Walau kami belum jadi rapat pimpinan.
Entah
kenapa waktu itu tak jadi. Karena akupun mendadak tak bisa mengahadiri rapat
pimpinan karena tetangga sebelahku meninggal. Sebagai makhluk social,
ada baiknya jika
membantu hal lain yang bisa dikerjakan di tengah keluarga yang sedang
berkabung. Tapi ya sudahlah. Tak peduli dengan organisasi, yang terpenting ada update-an berita di web Scinetiarum.
Tapi
kira-kira seperti itulah, gambaran orang-orang yang tak
bersungguh-sungguh belajar di Scientiraum dan tak menghargai Scinetiarum
sebagai sebuah lembaga untuk belajar yang memiliki aturan main. Yang tak bisa
belajar komitmen, hanya ikut-ikutan untuk bisa bersenang-senag, bersoialisasi menambah
teman, hanya numpang nama dan cari
point.
Pergi
yang jauh daripada jadi benalu.
0 comments:
Post a Comment