Monday, May 27, 2013

Sedikit Demi Sedikit, Tetapi Sering


Indonesia sempat menduduki posisi 5 besar cyber crime di dunia. Sejak 2011, posisi tersebut bergeser. Namun kejahatan pembobolan kartu kredit masih marak di Indonesia.

Pembobolan yang dilakukan bukan langsung besar, melainkan sedikit demi sedikit tetapi sering. Sehingga si pemilik kartu kredit tidak sadar bahwa dirinya dirugikan.

Menurut penilaian M. Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), untuk melakukan pembobolan rekening bank secara online dinilai susah-susah gampang. Namun, jika dibandingkan layanan perbankan yang lebih mudah dibobol adalah kartu kredit.

Jika hanya mebobol password atau pin ATM itu mudah karena ada banyak cara untuk bisa membaca isi rekening. Sementara sedikit rumit bila membobol alogaritma sistem token yang digunakan bank.

Berikut contoh kasus pembobolan kartu kredit.

Tersangka LD, membobol kartu kredit milik Warga Negara Asing (WNA) melalui internet, dengan sistem data bank. Dari hasil membobol, data pemegang kartu kredit, tersangka berbelanja melalui transaksi kartu kredit milik WNA, dengan cara menggunakan sejumlah program.  Dengan kerugian sekitar Rp 1,5 miliar. (Jakarta-Selasa, 15 Juni 2010).

Pembobol berinsial F, diduga mencuri biodata melalui media internet. Salah satu korbannya adalah perusahaan penerbangan Air Asia. F membobol kartu kredit untuk membeli tiket elektronik penerbangan Air Asia dan biaya penginapan hotel, dengan kerugian Rp 500 juta. (Jakarta, 14 Juni 2010).




Share:

0 comments:

Post a Comment