Indonesia sempat menduduki posisi 5 besar cyber crime di dunia. Sejak 2011, posisi
tersebut bergeser. Namun kejahatan pembobolan kartu kredit masih marak di
Indonesia.
Pembobolan yang dilakukan bukan langsung besar, melainkan
sedikit demi sedikit tetapi sering. Sehingga si pemilik kartu kredit tidak
sadar bahwa dirinya dirugikan.
Menurut penilaian M. Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia
Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), untuk
melakukan pembobolan rekening bank secara online dinilai susah-susah gampang.
Namun, jika dibandingkan layanan perbankan yang lebih mudah dibobol adalah
kartu kredit.
Jika hanya mebobol password atau pin ATM itu mudah
karena ada banyak cara untuk bisa membaca isi rekening. Sementara sedikit rumit
bila membobol alogaritma sistem token yang digunakan bank.
Berikut contoh kasus pembobolan kartu kredit.
Tersangka
LD, membobol kartu kredit milik Warga Negara Asing (WNA) melalui internet,
dengan sistem data bank. Dari hasil membobol, data pemegang kartu kredit, tersangka
berbelanja melalui transaksi kartu kredit milik WNA, dengan cara menggunakan
sejumlah program. Dengan kerugian
sekitar Rp 1,5 miliar. (Jakarta-Selasa,
15 Juni 2010).
Pembobol
berinsial F, diduga mencuri biodata melalui media internet. Salah satu
korbannya adalah perusahaan penerbangan Air Asia. F membobol kartu kredit untuk
membeli tiket elektronik penerbangan Air Asia dan biaya penginapan hotel,
dengan kerugian Rp 500 juta. (Jakarta, 14 Juni 2010).
Sumber: http://www.ahlikartukredit.com/forum/component/content/article/27-kartu-kredit/119-kartu-kredit-mudah-dibobol, http://etikaprofesiteknologiinformasi.blogspot.com/p/blog-page_9601.html
0 comments:
Post a Comment